Crimson Butterfly : The Fatal Frame -First Moon-

 

gfs_52988_2_3

Hai… Kami tau kalau kalian ingin mengunduh dan menonton kelanjutan dari Proyek kami, tapi dikarenakan staff yang berhubungan project tersebut pada sibuk, maka project tersebut mengalami pending .. 🙁

Nah sambil menunggu project yang kalian tunggu rilis kembali, mari membaca kisah Fatal Frame 2 : Crimson Butterfly dalam gaya Novel 😀 beberapa dari kalian mungkin sudah ada yang memainkan game ini yah ..

Sebenernya bukan aku yg nulis sih, tpi aku udah dapat izin dari Author asli ny 😀
__________________________________________________________________________________

Crimson Butterflies; The Fatal Frame

By. Luna Sedata

All characters belong to Tecmo.inc as this is only one of fan fiction from Playstation 2, X-box, and Nintendo Wii Game. With this disclaimer, author owe nothing with Tecmo-Koei.inc

Mengisahkan tentang event yang terjadi pada game Fatal Frame 2: Crimson Butterfly. Ditulis kembali dengan gaya novel dan alur cerita yang cukup detail sehingga dapat dinikmati bahkan tanpa harus bermain gamenya. Tentu saja jika reader pernah memainkan gamenya akan memudahkan untuk mengikuti kisah ini. Well… enjoy the story.

Genre : Adventure, Horror, Tragedy, Fantasy.

__________________________________________________________________________________

Hour 7 : First Moon

“I just want you live the life my brother and I could not…”

~Itsuki Tachibana.

Mio masih memandangnya dengan was-was, walaupun perlahan-lahan memutuskan untuk berjalan mendekati sekat jendela di gudang yang terkunci itu. Fakta bahwa laki-laki berambut putih itu memakai yukata membuktikan bahwa dia adalah salah satu penduduk desa. Mio bisa berpikir seperti itu karena penduduk desa yang ditemuinya selama ini selalu memakai pakaian tradisional, hanya Miyako yang menjadi pengecualian. Yang jadi masalah adalah, Mio tidak pernah bertemu penduduk desa yang bukan hantu sejak dia pertama kali datang ke desa tak bernama ini.

“Yae… kau baik-baik saja?” tanya laki-laki itu cemas. Mio tidak menjawab, dia masih memandang laki-laki itu dengan penasaran. Wajahnya, lalu tangannya yang memegang sekat jendela, kedua bola matanya, semua tampak begitu nyata. Sinar lentera ditambah cahaya lilin yang menyala di dalam gudang cukup terang untuk menyakinkan Mio kalau dia tidak salah lihat.

“Kalau kau masih ada di sini… itu artinya Sae berhasil ditangkap kan?” kata laki-laki itu lagi sebelum melanjutkan. “Yae… kau tak punya banyak waktu lagi… Sae pasti dikurung di rumahmu, bisa jadi mereka memutuskan untuk mengunci gerbang masuk, setidaknya sampai mereka berhasil menangkapmu juga.”

Mio tersentak kaget, mengingat dia terpisah dengan Mayu karena gerbang besar yang mengunci sendiri, entah kenapa dia sangat yakin kalau apa yang dimaksud laki-laki itu tak lain adalah gerbang bersangkutan. Mendadak saja, Mio memiliki banyak pertanyaan untuk cowok misterius itu, walaupun ada satu hal yang harus dia tegaskan terlebih dahulu.

“Maaf…” kata Mio akhirnya memutuskan untuk berbicara. “Aku tidak tahu alasanmu memanggilku dengan nama Yae, tapi aku bukan Yae… namaku Mio… Amakura Mio. Aku dan kakakku tidak sengaja tersesat di sini, kami terpisah oleh sebuah gerbang besar yang menutup sendiri dan… a-aku… aku diburu oleh para penduduk… ”

“Tapi kau tidak apa-apa kan?” potong laki-laki itu mendadak, praktis menghentikan Mio yang bicara tak karuan. Laki-laki itu memandang Mio langsung ke matanya, entah apa yang menjadi alasan Mio, namun ia menganggap tatapan laki-laki itu sebagai penghiburan. Seolah-olah dia ingin mengatakan kepada Mio kalau semua akan baik-baik saja.

“Dengar… selama salah satu dari kalian tidak ditangkap, itu artinya masih ada peluang untuk kalian. Yang kau maksud itu pasti gerbang Kurosawa kan? Kau membutuhkan dua kunci untuk membuka gerbang itu. Coba lihat batu pahat di sana,” kata laki-laki itu sembari menunjuk sebuah batu pendek tak jauh dari kolam batu.

Mio melihat batu pahat yang dimaksud, sebuah batu pendek dengan ukiran dua anak kembar sedang berdiri bersama dengan salah satunya tanpa kepala. Mio meyadari kalau batu pahat itu pernah dilihatnya sekilas saat dia mengejar Mayu sebelum mereka tersesat. Mio ingat betul sensasi mengerikan bagaimana kegelapan segera menelannya begitu ia melewati batu pahat itu.

“Batu pahat itu disebut Patung Dewa Kembar, dipahat oleh keluarga Kiryu setiap kali ritual pengorbanan berhasil dilakukan,” kata laki-laki itu berusaha menjelaskan namun bengong sendiri setelah menyadari tampang Mio yang kebingungan karena tidak mengerti. Laki-laki itu tersenyum lemah.

“Maaf… yang aku maksud adalah, dua kunci yang kau butuhkan untuk membuka gerbang Kurosawa itu tersembunyi di batu pahat bersangkutan,” jelasnya lagi.

“Benarkah?” kata Mio semangat yang segera dibalas laki-laki itu dengan anggukan.

“Jumlah patung itu sangat banyak dan tersebar rata di seluruh penjuru desa, tapi kau tak perlu khawatir, aku tahu patung mana yang harus kau temukan. Setidaknya… kau tidak perlu mencari secara acak,” jawabnya menjelaskan.

“T-terimah kasih banyak…” kata Mio salah tingkah. Perasaan takutnya hilang setelah menyadari kalau laki-laki itu tidak berbahaya. Sebaliknya, fakta bahwa dia ingin membantu Mio membuatnya bersyukur, walaupun tetap saja Mio merasa penasaran. Merasa tidak sopan kalau menanyakan apakah laki-laki itu hantu atau bukan, Mio memutuskan untuk menanyakan namanya.

“Umm… apa aku boleh tahu… kau siapa? Maksudku… kenapa kau bisa dikurung di sini? Lalu pakaianmu… kau salah satu penduduk desa ini juga?” tanya Mio hati-hati, berusaha untuk tidak menyinggung sesuatu yang tidak perlu. Setidaknya, Mio tidak mau laki-laki itu salah paham dan untungnya dia tidak terlihat demikian.

Laki-laki itu melihatnya dengan bingung sebelum menghela napas berat. Namun begitu, dia berusaha untuk tersenyum lagi pada Mio.

“Itu bukan hal yang penting…” jawabnya singkat sebelum melanjutkan. “Pergilah ke puncak bukit Misono, kau tahu kan? Puncak bukit yang ada altar batunya? Lokasinya ada di depan gerbang desa sebelum rumah Osaka… kau akan melihat beberapa patung dewa kembar di sekitar altar… periksa saja semuanya, salah satu kunci yang kau butuhkan mestinya ada di antara patung-patung itu.”

Mio tampak berpikir, tentu saja dia tidak mengerti dimana lokasi bukit Misono, setidaknya sampai laki-laki itu menyebutkan tentang altar batu. Mio masih cukup hafal di mana lokasi altar bersangkutan mengingat lokasi tersebut adalah tempat di mana Mio berhasil menyusul Mayu untuk pertama kalinya.

“Bagaimana dengan kunci yang satunya lagi?” tanya Mio mulai tak sabaran.

“Di samping rumah Kiryu…” jawab laki-laki itu cepat dan segera melanjutkan setelah melihat Mio masih tidak mengerti.

‘Rumah Kiryu adalah salah satu dari rumah kembar desa selain rumah keluarga Tachibana. Kau bisa membedakannya dari rumah yang lain dengan melihat jembatan unik yang saling terhubung di antara lantai atas kedua rumah tersebut. Rumah Kiryu adalah rumah yang sebelah kiri kalau kau berdiri membelakangi jalan utama desa,” jelasnya lagi.

Mio mengangguk pelan, dia memang ingat akan kedua rumah yang unik itu. Secerca harapan baru mulai mengisi hatinya, walaupun tidak ada alasan yang kuat mengapa Mio harus mempercayai laki-laki berambut putih yang serba misterius itu. Toh, Mio memang mempercayainya. Setidaknya lebih baik daripada berusaha menolong Mayu tanpa ada petunjuk sedikitpun.

“Nah… kalau kau sudah mengerti, cepat pergi dan susul saudaramu… kalian sudah tak punya waktu lagi… begitu kau berhasil mendapatkannya, segera pergi dari sini… atau…” kata laki-laki itu terhenti yang malah membuat Mio merasa penasaran, walau dia yakin jawaban yang akan dia dengar bukanlah sesuatu yang akan dia sukai.

“Atau…?” tanya Mio tak yakin.

“Kau akan kehilangan orang yang paling kau sayangi…” jawabnya dengan ekspresi wajah sedih. Mio tertegun, firasatnya mengatakan bahwa apa yang dimaksud laki-laki itu tak lain adalah, dia akan kehilangan Mayu untuk selama-lamanya andai dia gagal menolong kakaknya itu.

Mio menelan ludah, dan perasaan takut perlahan-lahan mulai kembali mengisi ruang hatinya. Dia tampak bingung akan satu dua hal sebelum Mio akhirnya memutuskan untuk kembali bertanya.

“Yang kau maksud dengan ritual tadi itu… apa…?” tanya Mio gugup namun tak ditanggapi oleh laki-laki itu. Sebaliknya, dia memaksa Mio untuk segera pergi.

“Sudah kubilang kalau kau tak punya banyak waktu lagi… pergilah…” katanya memaksa. Mereka bertatapan cukup lama, setidaknya cukup bagi Mio untuk menyadari kalau laki-laki itu sudah bertekad tak mau mengatakan apa-apa lagi padanya.

“Terima kasih banyak…” kata Mio akhirnya sebelum mulai melangkah pergi menjauh. Perasaannya bimbang, selain peringatan laki-laki tadi sangat membingungkan dan tidak jelas, Mio juga khawatir para penduduk masih berjaga-jaga di luar sana. Mio menghela napas dengan berat.

“Yae…” panggil laki-laki itu lagi yang entah kenapa membuat Mio otomatis berbalik, padahal jelas-jelas dia tidak terbiasa dipanggil dengan nama itu. Mio merasa heran, bukankah dia sudah memperkenalkan dirinya tadi? apa alasannya sehingga laki-laki itu masih memanggilnya dengan nama Yae? Mio berusaha menebak-nebak di dalam hatinya sementara laki-laki itu masih terus memandangnya.

“Ada apa?” tanya Mio setelah sadar kalau dia baru saja bersikap cuek.

“Seandainya kau mendapatkan kesulitan di luar sana, datanglah kemari… mungkin aku bisa memberimu petunjuk… “ jawab laki-laki itu sembari tersenyum sementara Mio hanya berdiri dalam diam.

“Kenapa…? Kenapa kau mau menolong kami…?” tanya Mio. Dia sadar kalau mungkin saja pertanyaan yang dia ajukan ini bukanlah hal yang pantas diucapkan. Sudah bagus masih ada orang yang mau membantunya menolong Mayu, dan sekarang Mio masih sok dengan bertanya apa motif laki-laki itu mau membantunya. Sayangnya, rasa penasaran benar-benar sudah menguasai Mio, lagipula dia tak mau menyesal dengan keputusannya mempercayai laki-laki itu.

Laki-laki berambut putih itu sendiri tetap tersenyum, walaupun ekspresi sedih tetap terlihat jelas dari kedua matanya.

“Aku ingin… agar kau bisa menjalani kehidupan yang tak bisa kami miliki… aku… dan kakak kembarku…” jawabnya dingin.

***

Mio akhirnya memutuskan untuk keluar dari halaman belakang gudang. Walaupun agak takut pada awalnya, namun dia sedikit lega setelah menyadari para penduduk yang mengejarnya sudah menghilang. Walaupun tentu saja hal itu bukan berarti kondisi sudah aman, seluruh desa kembali menjadi sunyi dengan kabut yang semakin tebal, suasananya kembali seperti saat Mio pertama kali menginjakkan kaki di desa. Mio sangat berharap kalau firasatnya salah, mengingat dia bisa merasakan kalau suasana desa bahkan lebih mencekam jika dibanding saat dia belum terpisah dari Mayu.

Mio berlari menuju puncak bukit Misono tempat altar batu berada. Menurut petunjuk dari laki-laki berambut putih tadi, mestinya Mio akan mendapatkan salah satu kunci yang diperlukan untuk membuka gerbang Kurosawa di sana.

Mio baru berlari hingga pertengahan jalan sebelum dia merasakan gerimis hujan yang mulai jatuh. Sesekali kilat menyambar dengan cahaya yang mengerikan. Mengerti kalau hujan akan segera turun, Mio segera berlari secepat yang dia bisa untuk mencapai altar batu.

Saat Mio sampai di puncak bukit Misono, dia mendapati kalau obor-obor banyak yang sudah padam apinya karena gerimis yang kian lama kian besar. Tak mau membuang banyak waktu, Mio segera memeriksa kalau-kalau ada patung dewa kembar di sekitar sana dan ternyata petunjuk laki-laki yang ditemui Mio terbukti benar.

Mio melihat ada tiga patung, yang paling dekat ada tepat di bawah tiang penyangga obor, yang kedua ada di samping kiri tidak jauh dari altar, sementara yang terakhir agak tersembunyi di daerah rerumputan di belakang salah satu batu altar.

Mio segera berlari menuju patung dewa kembar yang agak tersembunyi di rerumputan dengan asumsi bahwa kalau memang kunci itu sengaja disembunyikan, semestinya patung dewa kembar yang paling tidak mencolok lah yang akan digunakan. Mio pun berjongkok memeriksa patung kecil tersebut, namun karena minimnya cahaya, serta rumput yang lebat menyulitkan Mio untuk memeriksa dengan jelas, bahkan senter pun tidak banyak membantu.

Putus asa dengan semua itu, Mio memutuskan untuk meraba patung dan daerah sekitarnya dengan asal-asalan. Untungnya, tindakan Mio yang nekat ini terbukti tepat setelah dia berhasil mendapatkan kunci yang diinginkannya tak lama kemudian. Kuncinya sendiri tidak terlalu besar dengan ukiran berbentuk kupu-kupu pada pangkalnya.

Hujan gerimis semakin menjadi-jadi sebagai peringatan bagi Mio kalau dia harus cepat, sayangnya, saat Mio baru saja hendak berdiri dan pergi, sebuah tangan mencengkeram tangan kirinya secara tiba-tiba dan tanpa peringatan. Terlepas dari tangannya yang samar, cengkeramannya begitu kuat membuat Mio menjerit hebat, sensasi dingin yang luar biasa segera menjalar dari cengkeraman tangan yang transparan itu.

Dengan sekuat tenaga, Mio menarik tangannya berusaha melepaskan diri, dia berhasil walaupun segera terjatuh karena panik dan ketakutan. Mio mengangkat kameranya, merasa aneh karena benda antik itu tidak memberi peringatan jikalau ada hantu yang berkeliaran di sekitarnya. Bukankah biasanya kamera akan bersinar merah terang kalau ada hantu berbahaya yang akan muncul? Apakah kamera itu benar-benar sudah rusak?

Mio melihat sosok hantu yang berdiri dengan wajah menyeramkan di depannya. Hantu itu tak lain adalah penduduk yang pertama kali meneriakinya di depan gerbang Kurosawa. Menyadari kalau kunci masih ada di tangan, Mio berniat untuk melarikan diri. Di dalam hatinya, Mio merasa kesal karena dia lupa memeriksa kamera antik itu saat masih berada di halaman belakang gudang yang terkunci tadi.

Mio baru saja mau berbalik sebelum dia melihat dua hantu penduduk lain sudah mengepungnya dari belakang, berjalan mendekat sembari membawa obor dan galah khasnya yang juga transparan. Mendadak hantu yang pertama tadi berusaha menyambar Mio untuk kedua kalinya namun berhasil dihindari. Dengan tangan kiri yang masih mati rasa, Mio tampak kepayahan, sementara tiga hantu itu melihat Mio dengan senyum menyeringai.

“Nona Yae… kau tak bisa lari lagi sekarang…” kata hantu yang membawa galah itu sementara Mio berusaha berdiri dan menenangkan diri sebelum mulai mengangkat kameranya kembali. Pertarungan hidup matinya yang kedua akan dimulai. Walaupun kali ini, kamera Mio sudah hampir tidak berfungsi sama sekali.

End of Hour 7.

Shall continue on the next one; The Second Fight – Between Life and Death.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *