Crimson Butterfly : The Fatal Frame -Hide & Seek-

Fatal-Frame-II-fatal-frame-ii-crimson-butterfly-11731419-1024-768


Hai… Kami tau kalau kalian ingin mengunduh dan menonton kelanjutan dari Proyek kami, tapi dikarenakan staff yang berhubungan project tersebut pada sibuk, maka project tersebut mengalami pending .. 🙁

Nah sambil menunggu project yang kalian tunggu rilis kembali, mari membaca kisah Fatal Frame 2 : Crimson Butterfly dalam gaya Novel 😀 beberapa dari kalian mungkin sudah ada yang memainkan game ini yah ..

Sebenernya bukan aku yg nulis sih, tpi aku udah dapat izin dari Author asli ny 😀
__________________________________________________________________________________

Crimson Butterflies; The Fatal Frame

By. Luna Sedata

All characters belong to Tecmo.inc as this is only one of fan fiction from Playstation 2, X-box, and Nintendo Wii Game. With this disclaimer, author owe nothing with Tecmo-Koei.inc

Mengisahkan tentang event yang terjadi pada game Fatal Frame 2: Crimson Butterfly. Ditulis kembali dengan gaya novel dan alur cerita yang cukup detail sehingga dapat dinikmati bahkan tanpa harus bermain gamenya. Tentu saja jika reader pernah memainkan gamenya akan memudahkan untuk mengikuti kisah ini. Well… enjoy the story.

Genre : Adventure, Horror, Tragedy, Fantasy.

__________________________________________________________________________________

Hour 6 : Hide & Seek

“I kept waiting… waiting… and waiting… for you to kill me…”
~Sae Kurosawa.

First Part. Hide

POV : Mayu Amakura

Awalnya, semua tampak gelap, Mayu tak bisa melihat apa pun selain lautan hitam tanpa batas, tanpa ada suara, tanpa ada sedikit pun cahaya. Mayu tidak tahu apa yang sedang terjadi, walaupun dia masih sadar dan bisa berpikir, namun apa yang terjadi saat ini sudah terlalu aneh baginya.

Seiring waktu, Mayu kian merasakan ketakutan yang luar biasa. Ini adalah pertama kalinya Mayu merasa sendirian, sangat kesepian dan tak berdaya. Dia tidak bisa merasakan keberadaan Mio, bahkan melihat tangannya sendiri pun dia tak mampu saking gelapnya. Tak ada siapa-siapa di kegelapan yang dingin ini, Mayu ingin berteriak namun mulutnya tetap terkatup rapat. Perasaannya tidak enak, Mayu yakin sesuatu sedang terjadi padanya, dan dia tak bisa menolak atau pun berkuasa atas semua itu.

Tiba-tiba saja, di antara kegelapan yang pekat, muncul seekor kupu-kupu merah. Berkelap-kelip sembari mengepakkan kedua sayapnya dengan anggun, sinarnya memberi sedikit cahaya bagi Mayu untuk bergerak. Kupu-kupu itu terbang di sekitar Mayu selama beberapa saat sebelum mulai maju bergerak ke depan. Mayu yang takut akan kegelapan haus akan sinar redup binatang itu, dia pun memutuskan untuk mengikutinya.

“Kau bisa mendengarku?” ucap seseorang yang tidak kelihatan, suara itu terdengar serak dan merdu di saat yang bersamaan, sesuatu yang sangat sulit untuk dijelaskan oleh Mayu walaupun dia yakin suara itu milik seorang gadis.

“Siapa…? Ini di mana…?” tanya Mayu sembari terus mengikuti sang kupu-kupu yang terbang di depannya. Waktu terasa berjalan begitu lambat dan suara misterius itu tidak terdengar lagi, kembali menghilang di antara hening sunyinya kegelapan. Seiring waktu, Mayu pun mulai merasa kalau tubuhnya semakin kaku terlepas dari fakta bahwa dia masih terus berjalan.

Tak butuh waktu lama bagi Mayu untuk sadar, bahwa dia tak bisa mengendalikan tubuhnya lagi. Kakinya berjalan sendiri, kedua matanya terus menatap ke depan, walaupun bisa berkedip sesekali, tetapi Mayu tak mampu bahkan untuk hanya menggerakkan satu jari saja. Mendadak suara misterius itu muncul lagi, dan kali ini terdengar lebih jelas.

“Aku terus menunggu… menunggu… dan menunggu…” kata suara itu sedih. Mayu yang tidak mengerti segera saja bertanya, walaupun bukan dengan mulut dia melakukannya. Suara itu bergema begitu saja di kepala Mayu dan entah kenapa, Mayu merasa kalau dia bisa berbicara dengan suara asing itu hanya dengan pikirannya.

“Siapa namamu…? Dan siapa yang kau tunggu?” tanya Mayu heran namun lagi-lagi tak ada yang menjawab. Perlahan namun pasti, kegelapan mulai hilang digantikan oleh cahaya putih yang menyilaukan berlalu begitu saja menelan Mayu. Semuanya kini berputar-putar, sangat cepat dan sungguh memusingkan. Mayu memaksakan dirinya untuk menutup mata saja dan dia berhasil. Walaupun kedua kakinya masih berjalan sendiri tanpa bisa dikendalikan, namun secara batin, Mio merasakan sensasi yang tidak biasa, seperti terlempar jatuh dari tempat yang tinggi.

Mayu membuka matanya, dia bisa melihat hutan yang lebat dengan dominasi warna hitam dan putih. Semua itu berputar pelan di dalam pikirannya sebelum gambar visual itu berubah. Dua orang gadis dengan rambut sebahu, memakai kimono putih dengan kain selendang tipis terikat mengitari pinggang mereka, sedang berlari di hutan itu. Selendang kain yang dikenakan terlalu panjang untuk ukuran pinggang mereka, membuatnya melambai-lambai seiring langkah kaki mereka yang memburu. Mayu tidak bisa melihat wajah gadis yang berlari di belakang, namun dia menyadari sesuatu yang aneh dengan gadis yang berlari di depannya. Gadis itu berwajah sangat mirip dengan Mio.

Mayu seperti ingin mengikutinya, sebelum sensasi seperti terjatuh dari tempat tinggi terjadi sekali lagi. Selama beberapa saat, Mayu teringat kembali akan pengalaman buruknya saat dia terjatuh ke dalam jurang terjal tujuh tahun yang lalu. Mendadak Mayu merasa kesepian lagi, perasaan ditinggal sendiri oleh Mio terasa begitu menyakitkan, dadanya terasa panas, Mayu seperti ingin marah, ada sesuatu yang siap meledak di hatinya sebelum mulutnya terbuka dan dia mengucapkan sesuatu.

“Yae… Kenapa…? Kenapa kau meninggalkanku?”

Mayu mendadak bingung dengan apa yang baru saja diucapkannya. Dia ingin memanggil Mio, tetapi kenapa mulutnya malah memanggil Yae? Siapa “Yae” ini? Mayu tidak pernah merasa punya teman dengan nama Yae sebelumnya walaupun anehnya, Mayu merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Perasaan seolah-olah Mayu punya hubungan yang sangat dekat dengan Yae, padahal kenal saja tidak. Tetapi perasaan sedih ini, perasaan ditinggal sendiri seperti ini dirasakan Mayu sangat mirip dengan perasaannya saat insiden tujuh tahun yang lalu, saat Mio hendak meninggalkannya karena Mayu tak mampu berlari menyusul adik kembarnya itu. Mendadak saja, suara gadis tak dikenal tadi kembali terdengar.

“Mati? Ya… aku memang dilahirkan untuk itu… tetapi kenapa…? Kenapa kak Yae tidak mau melakukannya? Kenapa kak Yae lebih memilih untuk lari? Kau bahkan mengkhianati janjimu padaku… Kenapa…? Kenapa…?”

“Kenapa…?”

Sesaat setelah suara itu selesai, pandangan Mayu kini berkunang-kunang dan dia tak bisa merasakan apapun lagi. Mayu kembali tak sadarkan diri.

***

Mayu mulai membuka matanya, kesadarannya mulai pulih seiring waktu berjalan dan tak perlu waktu lama baginya untuk menyadari sesuatu yang aneh telah terjadi. Dia berada di sebuah ruangan yang tampak asing, Mayu yakin kalau ruangan itu bukan bagian dari rumah Osaka, dan yang membuatnya lebih takut lagi adalah fakta bahwa dia sendirian, tanpa Mio di sampingnya.

Mayu hampir berteriak ingin memanggil Mio sebelum dia akhirnya memutuskan untuk membatalkan niatnya itu. Mayu khawatir jika dia berteriak malah akan mengundang tamu yang tak diinginkan, terlebih dia sudah beberapa kali bertemu dengan hantu saat bersama Mio sebelumnya. Toh, tidak ada jaminan ruangan asing tempat dia berada sekarang adalah ruangan yang lebih aman dari rumah Osaka.

Mayu mencermati ruangan asing itu dengan perasaan tak menentu. Dia melihat beberapa boneka jepang zaman dulu dipasang dalam sebuah deretan pajangan kayu yang penuh dengan debu tepat di depannya. Bonekanya sendiri cukup banyak, pria dan wanita dengan busana jubah kebesaran dalam acara-acara tradisional, masing-masing memiliki rupa yang sama, seolah-olah semua boneka itu adalah kembar.

Mayu menyadari kalau ruangan itu cukup kecil. Sebuah sekat dengan lampu minyak yang terang bersinar tak jauh darinya, membuatnya penasaran sehingga memutuskan untuk berjalan mendekat. Mayu melihat sebuah buku lusuh tergeletak di sana.

“Buku harian lagi…?” kata Mayu yang tampak berpikir sebelum memutuskan memeriksa lebih jauh tentang buku itu.

“Milik Sae dan… Yae?” Mayu bingung saat membaca halaman depan buku misterius tersebut. Lagi-lagi Mayu merasakan sensasi yang aneh, nama Yae rasanya terdengar begitu akrab menyebabkannya semakin penasaran dengan buku itu. Tanpa pikir panjang, Mayu memutuskan untuk membuka beberapa halaman berikutnya.

Buku harian itu ditulis dengan cara yang unik, jika dibuka dari depan, maka setiap halaman kiri adalah tulisan Yae sementara jika dibuka dari belakang, semua tulisan di halaman kanan adalah tulisan dari Sae. Tak perlu waktu lama bagi Mayu untuk menyadari kalau Sae dan Yae adalah kembar identik sama seperti dirinya dengan Mio. Mayu membuka halaman demi halaman, namun hampir semua tulisan sudah tak mampu dibaca lagi karena usia bukunya yang sudah tua. Hanya tinggal beberapa halaman terakhir saja yang tulisannya masih bisa dimengerti Mayu.

Mayu membaca buku harian itu dengan hati-hati, dia tidak mau merusak buku itu. Sebuah perasaan aneh kembali menjalar di hatinya seiring halaman demi halaman buku itu selesai dibaca.

Mendadak Mayu menutup buku itu, sorot matanya begitu sayu dan entah apa yang ada dalam pikirannya. Mayu menoleh ke arah lampu minyak yang masih bersinar terang di kamar sempit itu. Dia tersenyum, tapi bukan senyuman manis yang biasa ditunjukkannya kepada Mio. Senyumannya begitu misterius dan terkesan jahat sebelum dia mulai berbisik lemah.

“Datanglah padaku… Yae…”

***

Second Part. Seek

POV : Mio Amakura

Mio menyadari kalau seluruh pelosok desa kian terang benderang. Sinar obor menyala di mana-mana dan suara-suara teriakan beberapa penduduk, atau lebih tepatnya hantu penduduk desa itu terdengar sangat jelas di telinganya. Mio tahu kalau dia harus lari dan bersembunyi, atau jangan harap dia masih punya kesempatan untuk bertemu Mayu lagi.

Mio mengangkat kameranya dan menembak tiga hantu di depannya, bukan untuk mengalahkan tapi lebih untuk membuka kepungan dan mendapatkan ruang agar bisa lari, dan dia berhasil. Mio melarikan diri dari tiga hantu itu dengan cepat, meninggalkan satu-satunya gerbang yang harus dia buka agar bisa mencari Mayu sang kakak.

Tiga hantu yang menyadari kalau Mio telah lolos semakin berteriak menyeramkan, mereka juga mengejar Mio, berusaha menangkapnya. Beruntung bagi Mio karena gerakan tiga hantu itu lebih lamban darinya, hal yang wajar mengingat Mio sendiri adalah juara lomba lari di sekolah.

Mio melewati dua rumah unik dengan jembatan yang dia lihat sebelumnya. Tepat tak jauh dari arah depan, beberapa penduduk yang lain menyadari keberadaan Mio.

“NONA YAE ADA DI SANA…!” seru salah satu diantara mereka sebelum ikut mengejar Mio, memimpin beberapa penduduk yang menjadi rombongan di belakangnya. Di kepung dari arah depan dan belakang, Mio tak punya pilihan lain selain berlari kembali ke arah rumah Osaka. Mio mulai berpikir untuk bersembunyi ke arah hutan dulu, bukankah sejak tadi dia dan Mayu tidak menemukan siapapun di sana? Walaupun resiko terjatuh atau diserang binatang tetap ada, setidaknya, resikonya tidak lebih besar dibanding jika Mio bersembunyi di desa.

Mio sudah mencapai rumah Osaka dan hendak menuju ke arah hutan sebelum sesuatu menghentikannya. Mio terpana dengan pemandangan di atas bukit hutan itu, nyala obor yang begitu banyak bergerak di sela-sela hutan, suara-suara teriakan yang kejam terdengar dan harus Mio akui, dia merasa gentar mendengarnya. Mio panik saat mendengar suara beberapa hantu penduduk dari arah desa yang juga kian mendekat.

Mio sudah hampir putus asa sebelum sebuah kupu-kupu merah terbang melintasinya dengan santai, mengepakkan kedua sayapnya dan berlalu ke sebuah arah lain yang menjauh dari hutan. Mio tanpa pikir panjang mengikuti kupu-kupu misterius itu, melewati beberapa rumah yang rusak dan gelap, Mio menyadari sebuah papan pengenal yang bertuliskan “Kediaman Keluarga Tsucihara” di salah satu reruntuhan rumah.

Mio masih terus berlari sebelum dia sampai di penghujung jalan yang buntu dengan dinding batu menjulang tinggi, kupu-kupu merah yang dia ikuti tadi juga sudah hilang entah kemana. Suara-suara teriakan penduduk mulai terdengar lagi, menyadari ada sebuah gudang tak jauh di sebelah kanannya, Mio berusaha membukanya namun tak berhasil, pintu gudang itu terkunci dengan rapat dan tak mau bergerak sedikitpun, sukses membuat Mio semakin frustasi.

Mio kembali memperhatikan dinding batu yang menghadangnya itu sembari berusaha berpikir. Tak mungkin baginya untuk memanjat atau melompatinya, sementara menerobos hantu-hantu penduduk yang mendekat itu juga bukan sebuah solusi. Selain hantunya terlalu banyak, terlebih dengan kondisi kameranya yang begitu lemah sekarang, ruang gerak di sana juga sempit.

Tak mau menyerah, Mio berusaha mencari tempat untuk bersembunyi. Dia menyadari sebuah sekat sempit tak jauh dari gudang, sekat itu menjorok masuk ke arah belakang gudang dengan sebuah pintu kecil di ujungnya. Pintu itu pendek walaupun bisa dibuka. Mio masih ragu apakah mau masuk ke dalam atau tidak, mengingat pintunya kecil dan Mio harus membungkuk rendah untuk memasukinya, bagaimana kalau di sana ada hantu yang siap menangkapnya juga? Dengan posisi membungkuk, tentu saja akan sulit bagi Mio untuk lari atau menghindar dari serangan yang tak diinginkan.

Mio merasa bimbang, walaupun dia juga sadar kalau dia tak punya banyak waktu untuk berpikir. Sembari menelan ludah, Mio nekat melewati pintu kecil itu, membungkuk rendah dan memasukinya. Mio merasakan tubuhnya merinding saat dia sampai di sebuah tempat baru yang sepertinya adalah sebuah halaman kecil di belakang gudang yang terkunci tadi.

Mio bersyukur karena tidak ada hantu yang menyerangnya. Sebaliknya, halaman gudang itu tampak tenang, beberapa kupu-kupu merah terbang dengan malas di antara lentera merah yang bersinar redup. Lenteranya sendiri berbentuk sama dengan lentera merah yang pernah Mio lihat di salah satu kamar di rumah Osaka, bermotif kupu-kupu juga dengan sebuah tiang kecil sebagai penahannya. Mio sudah pasti akan memuji keindahan lentera itu andai saja situasinya lebih baik daripada yang dia alami sekarang.

Mio mempertajam pendengarannya, dia ingin tahu apakah hantu para penduduk masih berkeliaran di luar walaupun semuanya terasa sunyi senyap. Mio tidak bisa mengintip melalui sela-sela pintu, tapi dia bisa merasakan hawa dingin di sekitarnya. Sensasi yang sama seperti yang Mio rasakan saat dia bertemu dengan hantu Miyako. Takut tempat persembunyiannya ketahuan, Mio menjauhi pintu kecil dan melangkah lebih dalam ke halaman belakang gudang.

Mio mendekati lentera merah yang dilihatnya tadi, menyadari sebuah kolam batu kecil yang indah tak jauh dari sana, airnya jernih dan mengalir ke arah luar dinding batu melalui sebuah lubang kecil. Mio mendadak saja merasa sangat haus, hal yang wajar mengingat Mio tidak minum sama sekali sejak dia dan Mayu tersesat di desa.

Setelah memastikan air kolam itu bersih dan tidak berbau, Mio mengambilnya dengan tangan dan meminumnya beberapa kali. Ini adalah pertama kalinya Mio meminum air mentah, tak mau berpikir yang muluk-muluk, Mio hanya berharap agar perutnya tidak sakit karena hal ini.

Mio duduk di salah satu batu besar di tepi kolam, memutuskan untuk mengecek kameranya untuk persiapan andai saja hantu penduduk itu menembus dinding pintu kecil tadi dan menemukannya.

Mio masih penasaran dengan penyebab yang membuat kameranya mendadak lemah seperti itu. Cukup ironis mengingat kamera itu mampu melawan hantu Miyako dan tiga hantu aneh berbentuk kakek tua di rumah Osaka.

Dari pengalaman yang Mio dapat saat melawan hantu sebelumnya, Mio menyadari beberapa hal penting berkenaan dengan kamera itu. Semisal fakta bahwa semakin frame gaib terisi penuh, maka semakin kuat pula daya rusak kameranya. Karena itulah Mio selalu berusaha menembak hanya pada saat frame berubah merah yang menandakan bahwa energinya telah maksimal. Mio juga menyadari bahwa jarak tembak sangat menentukan, semakin dekat sosok hantu dengan kamera, semakin kuat pula kekuatan tembaknya. Jika dipadu dengan frame gaib yang terisi penuh, hantu itu akan terpental jauh dan terluka parah. Buktinya, hantu Miyako menjerit kesakitan saat Mio tanpa sengaja melakukan trik ini, gerakannya pun segera melamban walaupun Mio masih ingat betul bagaimana dia gagal mengalahkannya yang berujung nyawanya diselamatkan oleh Mayu.

Mio hendak membuka bagian belakang kameranya agar bisa diperiksa, walaupun dia segera membatalkan niatnya itu setelah menyadari ada seseorang yang mengintainya tak jauh dari sana. Sosok itu berdiri di dalam gudang dan sedang menatapnya melalui celah sebuah jendela kecil yang tidak disadari Mio sebelumnya. Tanpa pikir panjang, Mio segera berdiri, mengarahkan kameranya dan menembak. Mio terlalu panik, menyebabkannya menembak dengan frame gaib yang hanya terisi sepertiganya saja. Hantu itu tidak terluka sama sekali. Sebaliknya, dia masih terus memandang Mio dengan wajah khawatir.

“Dengan wajah khawatir?” pikir Mio dalam hatinya. Bingung, Mio menurunkan kameranya agar bisa melihat sosok hantu itu dengan jelas.

Sosok asing itu tampak sebagai seorang remaja laki-laki dengan wajah feminin, memakai yukata putih dengan rambut yang telah memutih semua, hal yang aneh mengingat wajahnya masih tampak berusia belasan tahun seperti Mio. Kedua matanya sayu dengan warna merah garnet, tak kalah indah dengan kupu-kupu merah yang masih mengitari halaman tempat Mio berada. Laki-laki itu masih menatap Mio dengan bingung. Mio sendiri juga terus memandang ke arahnya, menyadari kalau cowok itu tidak berbadan transparan membuatnya sedikit lebih tenang.

“Yae…! Kenapa kau masih ada di desa?” tanya cowok berambut putih itu tiba-tiba. Mio sendiri juga kaget. Terpikir olehnya kalau sedari tadi, hantu penduduk yang mengejarnya juga memanggilnya dengan nama Yae. Hantukah orang ini? Tapi kenapa tubuhnya tidak transparan? Selain itu, Mio tidak merasakan niat jahat dari cara cowok itu memandangnya. Tak mampu mendapatkan jawaban yang cocok atas semua pertanyaan di dalam pikirannya. Mio memberanikan diri untuk bertanya sembari menjaga jarak.

“Kau ini… Siapa?” tanya Mio bingung.

End of Hour 6.

Shall continue on the next one; The First Moon

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *