Crimson Fatal Frame : The Fatal Frame -Mystery of Miyako Sudo-

Hai… Kami tau kalau kalian ingin mengunduh dan menonton kelanjutan dari Proyek kami, tapi dikarenakan staff yang berhubungan project tersebut pada sibuk, maka project tersebut mengalami pending .. 🙁

Nah sambil menunggu project yang kalian tunggu rilis kembali, mari membaca kisah Fatal Frame 2 : Crimson Butterfly dalam gaya Novel 😀 beberapa dari kalian mungkin sudah ada yang memainkan game ini yah ..

sebenernya bukan aku yg nulis sih, tpi aku udah dapat izin dari Author asli ny 😀


_________________________________________________________________________

Crimson Butterflies; The Fatal Frame


All characters belong to Tecmo.inc as this is only one of fan fiction from Playstation 2, X-box, and Nintendo Wii Game. With this disclaimer, author owe nothing with Tecmo-Koei.inc

Mengisahkan tentang event yang terjadi pada game Fatal Frame 2: Crimson Butterfly. Ditulis kembali dengan gaya novel dan alur cerita yang cukup detail sehingga dapat dinikmati bahkan tanpa harus bermain gamenya. Tentu saja jika reader pernah memainkan gamenya akan memudahkan untuk mengikuti kisah ini. Well… enjoy the story.

Genre : Adventure, Horror, Tragedy, Fantasy.

______________________________________________________________________________

Hour 4 : Mystery of Miyako Sudo


“I kept searching for you…”
~Miyako Sudo in Osaka House
Pintu bergeser kecil, sangat kecil sehingga hanya menyisakan sedikit celah yang Mio yakini bahkan tak cukup untuk mengintip. Anehnya, suara itu kini hilang tak berbekas, walaupun perasaan diawasi oleh seseorang belum hilang dari perasaan mereka. Mayu dan Mio saling pandang sebelum menelan ludah.
“Mio… aku merasa ada seseorang di balik pintu itu?” Kata Mayu yang jelas sekali tak bisa menyembunyikan rasa takut dari suaranya. Mio sebaliknya, berusaha mengumpulkan semua keberanian yang dia miliki sembari menarik Mayu agar mundur dan berlindung di belakang.
“Siapa di sana?” tanya Mio galak, sadar kalau dia harus tampak kuat di depan Mayu atau kakaknya itu akan semakin ketakutan.
Mio menunggu dengan tidak sabaran, sebelum sadar kalau seseorang, atau sesuatu di balik pintu itu sepertinya tak pernah berniat untuk menjawab. Frustasi dan penasaran, Mio memberanikan diri untuk maju hendak membuka pintu. Mayu menahannya dengan terus memegang erat tangan Mio, tak rela adiknya mengambil resiko yang berbahaya seperti itu.
Mio menatap Mayu pelan, mereka tetap saling pandang selama beberapa detik sebelum Mayu mengerti dan melepaskan cengkeraman tangannya. Perlahan namun pasti, Mio berjalan mendekati pintu, dia bisa merasakan kaki dan tangannya yang gemetar sedari tadi. Terlepas dari keberanian kecil yang diperlihatkannya pada Mayu, betapa herannya Mio karena semua itu telah menguap dengan cepat oleh hawa dingin yang menyelimutinya.
Mio menggeser pintu itu secukupnya, setidaknya cukup untuk sekedar mengintip pelan dan dia memang melakukannya. Sesaat, Mio berharap agar kedua matanya lah yang ngawur. Mio melihat seorang wanita, berambut panjang, wajahnya pucat dengan mata yang penuh kebencian sedang menatapnya. Mata mereka berpas-pasan, sangat dekat sehingga Mio merasa pandangan mata wanita itu telah membekukan seluruh jiwanya.
“Mio!” seru Mayu khawatir yang segera menarik tangan adiknya itu, menjauhinya dari pintu.
Wujud wanita itu terlihat seluruhnya sekarang. Dia berdiri dengan sebagian tubuhnya menembus pintu, hal yang membuktikan kalau dia bukan manusia. Ruangan itu segera saja terasa lebih dingin menusuk, Mayu bahkan jatuh terduduk karena lemas.
Pikiran Mio bekerja cepat, dia tak bisa memikirkan apa pun lagi selain mencari cara agar menjauhkan sosok hantu itu sejauh mungkin, dan kamera yang tadi ditemukannya muncul begitu saja di benaknya. Bukankah kamera itu bisa mengusir hantu? Tapi bagaimana dengan resikonya? Memo yang baru ditemukan Mio memperingatkannya agar sebisa mungkin untuk tidak menggunakan kamera tersebut, tapi antara mati dan menanggung resiko? Tentu saja Mio mengambil pilihan kedua. Lagipula dia harus melindungi Mayu.
Mio segera menyambar kamera yang ada di dekatnya, menyadari adanya lampu kecil pada kamera yang menyala terang berwarna merah. Mio tidak mengerti apa maksudnya dan memang itu tidak penting, setidaknya untuk sekarang. Tanpa pikir panjang, Mio menggunakan kamera itu dan menjepret sang hantu berkali-kali karena gugup. Sang hantu tidak terlihat kesakitan atau merasa terusik walaupun sosoknya memang menghilang yang tentu saja membuat Mio menghela napas lega.
“H-hilang…” ujar Mayu bengong sementara Mio sudah memeriksa kameranya kembali, merasa aneh karena lampu kecil yang tadi bersinar merah terang kini kembali redup sebelum padam total.
“Ayo… kita tinggalkan tempat ini…” kata Mayu gelisah. Dia berusaha berdiri dengan kedua kakinya yang masih lemas. Mio mengangguk sembari membantunya. Dengan terburu-buru, mereka berjalan menuju pintu keluar hanya untuk menyadari kalau pintunya tak bisa dibuka, tak peduli sekuat apa Mio berusaha menggesernya.
“Kenapa di saat seperti ini…?” protes Mio kesal, masih berusaha membuka pintu dengan semua tenaga yang dia miliki tanpa hasil berarti. Jangankan terbuka, bergeser satu inci pun tak bisa, seolah-olah ada kekuatan aneh yang menahan pintu itu.
“Mio…!” seru Mayu tiba-tiba yang tentu saja mengagetkan saudaranya itu. Segera berbalik, Mio kembali merasakan hawa dingin yang menusuk itu lagi. Hantu wanita tadi kembali muncul, begitu nyata terlepas dari sosoknya yang sedikit transparan. Mio sadar kalau wanita itu tak lain adalah wanita yang sama dengan yang mereka lihat dalam pengelihatan Mayu. Ekspresi wanita itu begitu sedih, dia memandang dua saudara kembar itu dengan ekspresi kosong sebelum berpaling, berjalan menembus pintu geser ganda di samping tangga yang pernah Mio buka sebelumnya namun tak berhasil. Mio dan Mayu sendiri masih berdiri diam di depan pintu utama, bengong.
Sadar kalau penampakan sang hantu telah usai, Mio kembali berusaha membuka pintu keluar untuk kesekian kalinya. Kesal karena pintu tak mau bergeser, Mio menendangnya begitu keras walau pintunya tetap bergeming tak bergerak
“Sialan… jelas-jelas kita membukanya dengan mudah saat masuk tadi,” keluh Mio marah.
Mayu sendiri masih terus-terusan menatap pintu geser ganda yang dimasuki si hantu sebelumnya. Tampak berpikir sebelum ia menoleh pada Mio.
“Mio…” kata Mayu pelan. Dia tampak ingin mengatakan sesuatu sebelum kembali menutup mulutnya. Merasa ragu dengan apa yang ingin dia katakan.
“Kau punya ide kak?” tanya Mio tak sabaran.
“B-bagaimana kalau hantu wanita tadi… sengaja tak mau membiarkan kita pergi…?” tanya Mayu cemas.
Mio berusaha mencerna maksud kalimat Mayu.
“Maksud kakak… kita harus mengenyahkan hantu itu dulu…?” kata Mio tak yakin.
“A-aku juga tidak tahu,” jawab Mayu. “Dia juga tersesat di sini, ingat? Dia terbunuh oleh pria bernama Masumi itu. Kupikir… Kalau kita bisa menyelidiki apa yang terjadi pada mereka… mungkin saja kita…” kata Mayu tak selesai. Dia masih tampak bingung.
Mio menghela napas, memutuskan untuk sekali lagi menggeser pintu keluar yang masih ngotot tak mau bergerak. Sadar tak punya banyak pilihan, Mio mulai mempertimbangkan ide Mayu sembari memandang pintu geser ganda yang ada di depan mereka.
“Aku juga tidak yakin ini ide yang baik,” kata Mayu tiba-tiba. “Tapi, pilihan apa lagi yang kita punya?”
“Jangan khawatir kak, kita pasti bisa keluar,” kata Mio cepat, berusaha memberi rasa aman pada Mayu. Mio menaikkan kamera yang ditemukannya walaupun secara pribadi, dia masih sulit mempercayai kemampuan benda antik tersebut. Perlahan namun pasti, mereka mulai melangkah mendekati pintu geser ganda itu.
Mio dan Mayu sudah berdiri di depan pintu sekarang, namun sebuah keraguan muncul di benak mereka. Perasaan takut yang menyelimuti membuat mereka terus berpikir yang bukan-bukan. Bagaimana kalau hantu itu berniat jahat? Bagaimana kalau hantu itu muncul lagi secara tiba-tiba dan menyerang mereka? Dan yang paling parah, bagaimana kalau kamera yang dipegang Mio hanyalah benda antik biasa? Memo yang ditemukannya pun jangan-jangan cuma karangan indah pria bernama Seijiro Makabe, dan menghilangnya hantu wanita tadi saat di jepret Mio di ruang belajar hanyalah sebuah kebetulan? Sudah pasti Mio cukup cekatan kalau soal melarikan diri, tapi bagaimana dengan Mayu? Mio menoleh ke belakang, melirik pintu keluar dan berharap ada mujizat yang membuat pintu itu terbuka tanpa sebab walaupun tentu saja dia tak berharap banyak dengan khayalan bodoh seperti itu.
Mayu yang menyadari ketakutan Mio memegang tangannya lagi.
“Mio… kalau terjadi sesuatu, akan kupastikan kau punya waktu untuk lari,” kata Mayu tersenyum. Sebuah senyuman yang menggetarkan hati adiknya itu. Tak bisa berkata-kata, Mio membalas genggaman tangan Mayu. Sorot matanya berubah dan keberanian yang entah dari mana meledak-ledak di dadanya.
“Kita pasti bisa pulang kak, pasti…” kata Mio sebelum menggeser pintu di depannya.
Pintu geser ganda itu dibuka Mio dengan mudahnya. Hal yang ironis mengingat Mio hampir mematahkan tangannya saat dia berusaha menggeser pintu itu pertama kali. Ruangan yang mereka masuki ternyata adalah sebuah kamar tidur yang lembap, cahaya remang dari lampu minyak yang tergantung lemah di salah satu sisi dinding menyelimuti dengan lesu. Di sisi kiri adalah sebuah jendela panjang dengan taman kecil yang gelap sebagai pemandangannya. Mio menatap jendela itu cukup lama hanya untuk memastikan tidak ada wujud atau sosok aneh yang sedang mengintip mereka. Kamarnya sendiri sebenarnya cukup sempit dengan dua kasur terbaring kaku di lantai. Salah satunya dikelilingi tirai kain tipis yang sudah robek dan kusam karena sudah lama tak dicuci.
“Perasaanku tidak enak… seperti ada yang sedang melihat kita,” kata Mayu membuka keheningan yang tentu membuat Mio semakin waspada.
“Kak… jangan ngomong yang seram-seram,” kata Mio memohon yang dibalas Mayu dengan senyum aneh. Tentu saja Mio tahu kalau Mayu tidak sedang berbohong. Hanya saja, Mio akan sangat berterimah kasih kalau kakaknya itu berhenti mengatakan kata-kata yang menciutkan keberaniannya. Tanpa bumbu-bumbu dari Mayu pun, ruangan tempat mereka berada sekarang ini juga sudah seram.
Mio mendekati sebuah lemari panjang di samping kasur yang ada tirainya, memeriksa jikalau ada barang yang bisa dimanfaatkan walaupun terbukti apa yang ada di dalam lemari hanya tumpukan debu dan beberapa boneka khas jepang yang mengerikan. Memutuskan kalau tak ada barang yang berguna, Mio hendak angkat kaki dari ruangan itu sebelum matanya menangkap sesuatu di atas kasur. Sebuah buku merah tergeletak di samping bantal zaman dulu. Mio memeriksa buku itu yang ternyata adalah sebuah buku harian.
“Buku apa yang kau temukan?” tanya Mayu yang berdiri di dekat jendela sembari terus waspada.
“Sebentar,” jawab Mio sebelum memutuskan untuk membacanya dengan bantuan senter mengingat cahaya lampu minyak tak akan cukup bagi matanya. Mio membaca buku harian itu dengan penuh konsentrasi sementara Mayu terus mengawasinya. Angin malam yang dingin berhembus masuk melalui jendela membuat keduanya merinding. Tak tahan dengan suasana di sana, Mayu kembali mendesak Mio.
“Bagaimana?” tanya Mayu lagi. Mio masih membaca untuk beberapa detik lamanya sebelum dia sibuk membolak-balik buku tersebut dengan ekspresi bingung.
“Buku hariannya hilang sebagian…” kata Mio penasaran. “Sepertinya dirobek dengan sengaja.”
“Memangnya buku itu milik siapa?” tanya Mayu sembari berjalan mendekati Mio.
“Buku harian ini milik seorang wanita bernama Miyako Sudo… dan dia adalah kekasihnya Masumi si pria surveyor itu…” jawab Mio lirih sementara Mayu menutup mulutnya karena kaget.
“Ini buku harian hantu wanita yang kita lihat tadi kan? Apa saja yang tertulis di sana?” tanya Mayu penasaran.
“Miyako nekad mencari Masumi di hutan karena yakin kekasihnya itu masih hidup terlepas dari petugas berwajib yang sudah berhenti mencarinya. Secara tak sengaja, Miyako malah tersesat di desa ini. Anehnya, di buku tertulis kalau Miyako berhasil bertemu dengan Masumi. Mereka bahkan berusaha mencari jalan keluar bersama. Suatu kali, Miyako terjatuh dan terluka kakinya sehingga dia susah berjalan. Karena itulah, Masumi memutuskan untuk meninggalkannya di rumah ini sembari dia mencari cara keluar dari desa,” jelas Mio panjang lebar.
Dahi Mayu berkerut. “Semuanya tampak lancar, lalu alasan Masumi membunuh kekasihnya?”
“Entahlah… buku harian ini hilang sebagian, tak ada kelanjutannya,” jawab Mio lesu sembari membongkar kasur di sekitarnya. Alih-alih menemukan sisa buku harian Miyako, Mio malah menemukan sebuah kunci dengan ukiran bunga yang sedikit berkarat di ujungnya. Berpikir kalau kunci tersebut mungkin ada gunanya, Mio memasukkannya ke dalam tas yang terlilit di badannya.
“Kau seperti pemungut barang bekas saja?” cibir Mayu yang hanya dibalas Mio dengan cengiran.
“Siapa tahu berguna,” jawab Mio cepat. Dia mengeluarkan foto Masumi dan Miyako serta kliping korannya dari tas karena berpikir tak ada gunanya lagi untuk disimpan. Mio mengecek tasnya dengan seksama.
“Sarung tangan, empat baterai senter, empat set film biru, dua set film hijau, dan kunci…”
“Sebenarnya aku lebih suka kalau ada air minum di sana,” potong Mayu kecewa. “Kau haus tidak? Aku tidak yakin ada air bersih di desa, tapi sepertinya langit sedang mendung, semoga saja sebentar lagi hujan turun,” ujarnya sembari menoleh ke luar jendela dan memperhatikan kondisi langit yang gelap gulita.
Mio sendiri hanya mengiyakan, dia baru sadar kalau mereka tidak minum sedari tadi dan kerongkongannya memang sudah kering. Melihat kondisi rumah Osaka yang menyedihkan, sepertinya memang hanya hujanlah yang bisa menjawab kebutuhan mereka akan air bersih.
Sedikit banyak, Mio bersyukur tentang fakta bahwa mereka tidak bertemu hantu Miyako di ruangan tersebut. Merasa tak punya kepentingan lagi di sana, Mio mengajak Mayu untuk keluar dari kamar itu.
Mereka kembali ke ruangan utama dan hawa dingin kembali terasa. Hantu Miyako lagi-lagi muncul, tampak sedang menaiki tangga menuju lantai dua sebelum Mio memutuskan untuk menjepretnya dengan kamera. Sosok Miyako lagi-lagi menghilang dengan pelan. Melihat hal ini, Mio semakin ragu mengenai kemampuan kamera yang ditemukannya.
“Aku semakin tidak yakin dengan kamera ini,” kata Mio akhirnya. “Hantu kan memang bisa hilang dan muncul sesuka hati, kalau kamera ini punya efek tertentu, mestinya hantu itu merespon kan? Kesakitan kah? Menjerit kah?” ujar Mio.
“Mungkin karena kau tidak menggunakannya dengan benar,” balas Mayu cemas. “Kau kan hanya asal jepret… yang namanya mengambil foto, kau harus mengintip objek melalui lubang kameranya kan?”
Mio pangling, walau dia mencoba juga kata-kata Mayu dengan mengintip kakaknya itu melalui lubang kamera.
“Tidak ada bedanya,” kata Mio sebelum melanjutkan. “Jadi… kita naik ke lantai dua tidak, kak?” tanyanya yang direspon Mayu dengan sekali anggukan. Mereka menatap tangga yang rapuh itu. Keduanya ragu apakah tangga itu bisa menopang berat badan mereka.
“Sebenarnya, aku melihat tangga lain di koridor belakang yang sepertinya menuju lantai dua juga,” kata Mayu.
“Kita lewat sana saja kalau—”
“Tapi tempatnya sempit… dan gelap,” potong Mayu lagi.
“Kalau begitu kita lewat sini saja…” balas Mio lemas sembari berusaha menaiki tangga miring itu. Di luar dugaan, tangga itu lebih kuat dari penampilannya yang reyot. Mio memberi aba-aba pada Mayu agar menaikinya juga.
Di lantai dua, mereka menemukan sebuah pintu yang terkunci. Mio segera menduga kalau kunci yang ditemukannya di ruangan kamar tidur adalah kunci yang dibutuhkan untuk membuka kamar tersebut. Hebatnya, dugaan Mio terbukti tepat saat bunyi “klik” kecil terdengar. Mio pun membuka pintu tersebut dengan pelan demi sebuah kewaspadaan.
Ruangan itu tampak paling besar jika dibandingkan dengan semua ruangan yang ada di lantai satu. Beberapa kimono tergantung rapi di tempatnya. Sebuah kasur besar tergeletak di sudut. Yang membedakannya dengan kamar tidur lantai bawah adalah fakta bahwa kasur di lantai dua ini tampak bersih dan layak dipakai. Mio sudah mau berbaring di sana andai saja dia tidak melihat sebuah buku di tengah-tengah ruangan. Karena cahaya di kamar itu cukup terang, tentu saja buku itu mencolok sekali.
“Mungkin itu buku harian Miyako yang hilang?” kata Mayu pada adiknya. Mio sendiri punya pemikiran yang sama sembari dia mendekati buku itu dan memeriksanya. Tak butuh waktu lama baginya untuk memutuskan duduk dan membaca buku harian tersebut.
Mayu ikut-ikutan mengintip dari belakang sementara Mio yang selesai membaca menyadari sesuatu.
“Miyako terluka dan beristirahat di ruangan ini, sementara Masumi pergi menyelidiki rumah ‘kediaman Kurosawa’ demi mencari jalan pulang,” cerita Mio pada kakaknya.
“Rumah ‘kediaman Kurosawa’?” tanya Mayu bingung.
“Aku tidak tahu pasti yang mana… mestinya masih salah satu rumah di desa ini,” jawab Mio. “Buku ini tidak cerita banyak, di halaman terakhir, Miyako hanya menulis kalau Masumi pulang dengan badan bersimbah darah dan berjalan lunglai ke ruangan di belakang rumah. Miyako pun memutuskan untuk menyusul Masumi ke sana. Menurut kakak bagaimana? Kita belum sempat memeriksa kamar paling belakang di rumah ini kan? Jangan-jangan di sana lah Miyako terbunuh… kak Mayu… kenapa diam saja?” tanya Mio akhirnya setelah menyadari kakaknya tidak merespon sedari tadi. Mio menoleh ke arah Mayu yang tampak kaget, perlahan-lahan mundur beberapa langkah dengan ekspresi ngeri.
“Kau kenapa kak?” tanya Mio bingung sementara Mayu terlihat butuh tenaga ekstra untuk menjawab pertanyaannya. “M-mio… di s-sampingmu…” kata Mayu dengan suara bergetar.
Mio akhirnya mengerti setelah menyadari hawa sejuk yang luar biasa menyelimuti dirinya. Punggung dan lengan serta tangannya seperti mati rasa. Tak ingin mengagetkan dirinya sendiri, Mio perlahan-lahan menoleh ke arah sumber hawa dingin yang menusuk itu. Seorang wanita, berambut panjang hitam dengan mata yang melotot penuh dendam, menatapnya dengan dingin.
Sosok Miyako muncul begitu dekat dengan Mio, mata mereka bertemu satu sama lain untuk kedua kalinya.
“Kenapa…?” bisik hantu itu menyeramkan. Mio merayap ke belakang dengan tubuh gemetar sementara sang hantu mulai bangkit. Di antara semua penampakan sebelumnya, sosok Miyako paling jelas di sini, dia masih tampak cantik andai saja matanya tidak melotot seperti itu, memakai kemeja putih dengan rok hitam sederhana, Miyako Sudo menatap Mio dengan ekspresi yang mengerikan.
“Aku terus mencarimu…” kata Miyako dengan suara serak yang aneh, suaranya terdengar tidak seperti suara manusia lagi. Setelah mengatakan hal itu, dia berusaha menjangkau Mio dengan tangannya, wajahnya yang dingin benar-benar menyembunyikan nafsu membunuhnya.
Mio panik, berusaha melepaskan dirinya dari Miyako sembari menjerit. Tangan kirinya yang berhasil disentuh Miyako terasa semakin dingin dan lemas. Mio segera menyadari kalau beberapa sentuhan telak dari hantu itu lebih dari cukup untuk membunuhnya. Untungnya, Mayu tidak meninggalkannya sendirian. Menarik badan Mio, Mayu segera membantunya berdiri. Mereka mencoba untuk kabur melalui satu-satunya pintu keluar di ruangan itu yang sialnya malah menutup sendiri dengan suara berdebam yang keras. Mio berusaha membukanya namun pintu tak mau bergerak. Tak ada tempat untuk lari, Mio berbalik dan melihat Miyako masih menatap mereka sembari menyeringai mengerikan.
End of Hour 4.
Shall continue on the next one; Separation

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *