Crimson Butterfly : The Fatal Frame -The Camera Obscura-

Hai… Kami tau kalau kalian ingin mengunduh dan menonton kelanjutan dari Proyek kami, tapi dikarenakan staff yang berhubungan project tersebut pada sibuk, maka project tersebut mengalami pending .. 🙁

Nah sambil menunggu project yang kalian tunggu rilis kembali, mari membaca kisah Fatal Frame 2 : Crimson Butterfly dalam gaya Novel 😀 beberapa dari kalian mungkin sudah ada yang memainkan game ini yah ..

sebenernya bukan aku yg nulis sih, tpi aku udah dapat izin dari Author asli ny 😀


_________________________________________________________________________

Crimson Butterflies; The Fatal Frame


All characters belong to Tecmo.inc as this is only one of fan fiction from Playstation 2, X-box, and Nintendo Wii Game. With this disclaimer, author owe nothing with Tecmo-Koei.inc

Mengisahkan tentang event yang terjadi pada game Fatal Frame 2: Crimson Butterfly. Ditulis kembali dengan gaya novel dan alur cerita yang cukup detail sehingga dapat dinikmati bahkan tanpa harus bermain gamenya. Tentu saja jika reader pernah memainkan gamenya akan memudahkan untuk mengikuti kisah ini. Well… enjoy the story.

Genre : Adventure, Horror, Tragedy, Fantasy.

______________________________________________________________________________


Hour 3 : The Camera Obscura


“So, this is the Camera Obscura… it takes pictures of impossible things.”
~Seijiro Makabe
Mio dan Mayu sudah mengambil keputusan final, mereka harus mencari tahu tentang kemungkinan adanya bantuan yang bisa mereka dapatkan dari wanita yang mereka lihat sebelumnya. Walau sejujurnya, terlintas di pikiran mereka kalau bisa jadi wanita itu bukan manusia. Terlepas dari perasaan mencekam yang mereka miliki, masing-masing dari mereka mengerti kalau tidak membicarakan wanita yang mereka lihat itu sebagai hantu adalah hal yang paling baik.
Mio menggeser pintu masuk ke ruangan utama rumah Osaka itu dengan pelan diiringi suara derak yang menyeramkan. Perlahan, mereka menginjakkan kaki ke ruangan tamu yang cukup luas, disambut oleh debu yang beterbangan dan bau apek yang pekat.
Ruangan itu diterangi oleh lilin putih yang dipasang di dekat pintu masuk. Walaupun hanya sebuah lilin, sinarnya mampu menyinari seluruh ruangan. Interiornya sendiri sudah sangat tua dengan hampir semua dindingnya sudah lapuk dimakan ngengat. Beberapa sekat dinding yang terbuat dari kayu tampak rusak dan tergeletak di sudut dalam waktu yang lama, terlihat kusam dan kotor. Tepat di tengah ruangan, ada tempat pembakaran sederhana beserta kuali yang penuh karat tergantung miring di atasnya. Beberapa langkah dari tempat pembakaran, ada pintu geser lagi, begitu juga di atasnya yang merupakan kamar lantai dua. Untuk ke sana, mereka harus menaiki tangga yang sudah miring dan reyot, satu-satunya keinginan terakhir yang ingin dilakukan Mio.
Tepat di depan Mio, sebuah jalan sempit memanjang membentuk koridor, berpikir semestinya ada ruangan yang lebih aman di sana untuk diperiksa, Mio bermaksud ingin melihat lebih dalam.
“Kak, ayo kita-” kata-kata Mio terhenti setelah dia menyadari ada yang tidak beres dengan Mayu. Kakaknya itu entah sejak kapan terus menggigil seperti kedinginan. Mayu seperti melihat sesuatu yang entah kenapa, tidak bisa dilihat oleh Mio.
“Mayu?” tanya Mio penasaran. Berniat menenangkan kakaknya, Mio memutuskan untuk menggenggam tangan Mayu seperti biasa dan apa yang terjadi kemudian sungguh tidak masuk akal.
Ada sesuatu, terasa seperti listrik yang merambat cepat ke dalam kepala Mio diikuti oleh suara-suara aneh. Mio segera saja merasa pusing dan hendak melepaskan tangannya dari Mayu karena terkejut namun tidak bisa, Mayu mencengkeram tangannya dengan kuat. Sebuah pengelihatan aneh pun masuk begitu saja ke dalam pikiran Mio.
Sebuah ruangan yang kotor dan tua, ruangan yang sangat familiar karena Mio baru saja melihatnya, ruangan yang tidak lain adalah rumah Osaka itu sendiri. Namun ada yang janggal, seisi rumah tampak hitam putih dan perasaan apakah ini? Mio merasa sangat tidak nyaman, seolah-olah ada sesuatu yang siap mengancam nyawanya kapan saja.
“Masumi…” panggil seorang wanita yang entah muncul dari mana, membawa sebuah senter, dia tampak begitu cemas. Mio yakin dari gerak-geriknya kalau dia sedang mencari seseorang di rumah ini. Seseorang bernama Masumi.
“Masumi… kau di mana?” panggil wanita itu lagi. Suaranya menggema begitu saja di dalam pikiran Mio, terasa menakutkan dan efektif membuat bulu kuduknya merinding terlepas dari tubuhnya yang kaku dan tak bisa bergerak. Mio yakin kalau Mayu juga mengalami hal serupa.
Penampakannya berubah lagi, kali ini sosok seorang pria berjalan sempoyongan, wajahnya tidak kelihatan dan caranya berjalan terlihat menyedihkan. Sementara gadis yang memanggil Masumi dari tadi masih menggema suaranya.
“Kau ada dimana…?” tangis wanita itu lagi, dia berjalan di sebuah koridor yang panjang dan sempit, gelap, dan penuh debu di sisi-sisinya. Tanpa sengaja, Mio berhasil melihat wajahnya lebih dekat. Pikirannya memacu, Mio seperti menyadari sesuatu.
“Kenapa…?” kata wanita itu parau, penampakannya berputar dan berganti lagi, apa yang Mio lihat berikutnya adalah sebuah lapangan yang luas dan gelap. Di tengahnya tampak sesuatu seperti lubang di atas tanah, namun Mio menyadari kalau bentuknya yang persegi terlalu rapi untuk disebut lubang biasa.
Penampakan itu menghilang, sesaat semuanya tampak putih dan tenang. Mio mengira semuanya telah selesai walau dia harus kecewa karena gambar baru kembali berputar-putar di otaknya.
“Masumi, kau ada di mana?” kata Wanita tadi yang kembali muncul, berjalan masuk melewati sebuah pintu tua. Apa yang terjadi berikutnya begitu mengejutkan sehingga Mio merasa kalau dia telah menjerit walau tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Wanita itu ditindih oleh seorang pria, lehernya ditekan dengan begitu kuat sembari wanita itu berusaha melawan, tampak menderita karena kesulitan bernapas. Akhirnya, penampakan yang terakhir muncul, pemandangan yang paling mengerikan di antara semuanya. Seorang gadis dengan rambut pendek sebahu, memakai kimono putih dengan bercak darah yang begitu banyak sedang tertawa dengan histeris. Suaranya menggema begitu kuat membuat Mio serasa ingin pingsan. Gadis itu berdiri di sebuah ruangan yang luas dengan mayat-mayat yang begitu banyak, bergelimpangan di sekitarnya.
Dalam satu kejapan mata, pegelihatan itu menghilang dengan cepat. Mio terjatuh ke tanah karena kakinya yang mendadak kram sementara Mayu masih berdiri dengan memegang pintu di belakangnya, berusaha menahan diri agar tidak jatuh. Napas keduanya memburu, seolah-olah mereka baru saja berlari seratus meter.
“Yang tadi… itu apa…?” tanya Mio kepayahan, masih berusaha untuk mengejar napasnya.
“Aku tidak tahu… aku tidak tahu…” kata Mayu yang wajahnya tak kalah pucat dengan Mio. Tak mampu berdiri lebih lama, Mayu berusaha menyeret kakinya dan duduk di sebelah Mio. Keduanya membisu, antara takut, bingung, dan perasaan ingin pulang bercampur menjadi satu.
Sebenarnya, hal seperti ini bukanlah yang pertama bagi Mio dan Mayu. Mio mengerti kalau dia dan kakaknya tidaklah seperti anak pada umumnya. Ada sesuatu yang mereka miliki, sesuatu yang tidak dipunyai oleh orang lain. Sesuatu yang disebut indera spesial atau sixth sense kalau paman Kei menyebutnya.
Mayu mampu melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Masa lalu, masa depan, atau bahkan ingatan seseorang yang tertinggal di tempat tertentu. Masalahnya, Mio tidak pernah ingat kalau Mayu bisa mengendalikan kelebihannya ini. Kemampuannya bisa muncul di mana saja dan tanpa peringatan. Kadang kala, apa yang dilihat Mayu bahkan tidak jarang menjadi kenyataan.
Mio juga memiliki kemampuan serupa, walaupun tak sebanding dengan Mayu yang lebih sensitif. Apa yang bisa dilakukan Mio tak lebih dari mendengar suara yang aneh, atau perasaannya yang bisa merasakan bahaya yang akan tiba. Untungnya, hal ini tidak membuatnya terlalu berbeda dengan anak lain sehingga Mio masih mampu memiliki banyak teman. Berbeda dengan Mayu yang tak bisa terlalu akrab dengan siapa pun kecuali dengan Mio saja.
“Sudah kuduga, salah besar kalau kita berpikir bisa mendapatkan bantuan di desa ini, ini bukan desa biasa,” kata Mayu lemah. Dia tampak menyesal. Mio sendiri tidak merespon karena dia tahu betul apa yang dikatakan Mayu memang benar adanya.
“Apa menurutmu kita kembali ke hutan saja?” kata Mayu mencoba memberi usul. Mio yang sudah lebih tenang sekarang tampak berpikir.
“Kita sudah sampai di sini kak, kakak tahu sendiri kan kalau di luar juga sama tidak amannya.” jawab Mio. Dia membuka tas yang tadi ditemukannya di atas bukit, membukanya dan mengambil keluar foto yang mereka lihat sebelumnya.
“Lihat,” kata Mio yang memberikan foto itu pada Mayu. “Wanita yang kita lihat tadi, bukan kah sangat mirip dengan wanita di dalam foto ini?”
Mayu melihat foto itu dengan seksama, berusaha mengingat-ingat kembali akan wanita yang dilihatnya tadi dalam penampakan yang didapatkannya.
“Kau ingat tidak kalau wanita itu terus menyebut nama seseorang?” kata Mio sebelum melanjutkan. “Dia terus mencari seorang pria bernama Masumi kan? Lihat potongan koran ini?”
Mayu melihat potongan koran yang kembali ditunjukkan oleh Mio. Dia segera menyadari apa yang Mio maksud. “Masumi Makimura… pria yang menghilang selama 10 hari di area ini?” kata Mayu bingung.
“Jadi benar kalau mereka juga tersesat di sini? Lalu kenapa pria itu membunuh wanita yang berusaha mencarinya?” tanya Mayu lagi.
“Aku tidak bisa menduga sampai sejauh itu. Kalau mereka tersesat di sini, semestinya mereka juga mencari jalan untuk pulang. Kalau kita bisa mendapatkan petunjuk yang mereka kumpulkan…” kata Mio sembari menoleh ke arah Mayu.
Mayu tidak menjawab, dia bisa mengerti maksud Mio. Namun apa yang dilihatnya tadi, fakta bahwa pria bernama Masumi itu telah membunuh benar-benar membuat Mayu merasa tidak tenang.
“Baiklah…” kata Mio sembari berdiri, memandang koridor yang ada di depannya. “Kita akan mencari tahu, tak usah ambil pusing dengan desa ini, asalkan kita sudah tahu jalan untuk pulang, kita segera pergi dari sini,” kata Mio mantap. Mayu masih menatapnya, dia paham betul kalau sekali Mio sudah memutuskan, maka akan susah untuk membujuknya lagi. Mayu ikut berdiri dan mengangguk. Mereka pun mulai menjelajahi ruangan besar itu.
“Mio, jangan terlalu jauh,” kata Mayu memohon. Mio berbalik dan tersenyum padanya.
“Aku tahu,” kata Mio berusaha meyakinkan kakaknya, walau dia merasa kata-katanya itu lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri. Pengelihatan yang mereka dapat tadi, jelas-jelas itu bukti kalau keberadaan mereka tidak diterima di rumah ini.
Mio berjalan mendekati pintu geser ganda yang ada di ruang tamu di samping tangga, namun tak peduli sekuat apapun Mio berusaha menggesernya, pintu itu tak mau bergerak sedikitpun. Tak punya pilihan, Mio berjalan menelusuri koridor menuju bagian belakang rumah sementara Mayu mengekor di belakang dengan hati-hati.
Saat sampai di tengah koridor, Mio dan Mayu melihatnya lagi. Sosok wanita yang mencari Masumi itu berjalan dengan pelan namun wujudnya sedikit samar dan tidak jelas. Mio sudah ingin memanggilnya sebelum ditahan oleh Mayu.
“Jangan…! Kita menjauh saja darinya,” kata Mayu berbisik. Mio mengerti, dia tak ingin menakuti kakaknya lebih jauh. Bukankah wanita itu terbunuh oleh pria surveyor itu. Mungkin memang lebih baik menjauhinya saja daripada menyesal kemudian.
Mio melihat kalau koridor itu menyimpang ke arah lain yang juga berujung pada sebuah kamar. Sembari menggenggam tangan Mayu, Mio mendekati pintu kamar itu dan memasukinya.
“Sepertinya ini ruang belajar?” timpal Mayu kepada adiknya.
“Bisa jadi,” jawab Mio singkat. Mereka memperhatikan ruangan itu, lebih gelap dari ruangan utama sebelumnya. Ruangannya sendiri berantakan dengan buku-buku yang tergeletak tak beraturan di lantai. Berdiri berlawanan dengan dinding tampak sebuah altar kecil dengan ornamen aneh di tengahnya, Mio menduga ornamen itu dibuat dari kayu cendana. Mio berusaha menggeser meja belajar dan dia menyadari sesuatu. Sebuah senter, tak jauh dari kaki penahan meja.
“Senter! Dan masih berguna,” kata Mio senang setelah mencoba menyalakannya dan berhasil.
“Aku merasa ada yang aneh,” kata Mayu tiba-tiba.
Mio meliriknya, memperhatikan kalau Mayu sedang melihat sesuatu di sudut ruangan yang gelap. Penasaran, Mio menyinari sudut gelap itu dengan senter.
“Lihat,” seru Mio ketika menyadari sesuatu tergeletak di sana. Sebuah kamera, berukuran lebih besar dari kamera yang pernah ada dengan ukiran-ukiran aneh di sekitar lensa dan lampu blitz-nya. Kamera itu cukup berat, Mio menduga kalau kamera itu termasuk benda antik. Mio berusaha mengintip lubang kamera sebelum Mayu tiba-tiba berusaha menghentikannya.
“Mio… tunggu!” seru Mayu yang terbukti sudah terlambat saat pengelihatan yang lain menderu keras dan memperlihatkan kejadian aneh lagi.
Mio melihat sebuah hutan yang lebat, tampak tak berwarna yang menandakan kalau semua ini hanya ilusi yang tidak nyata. Mendadak muncul seorang pria dewasa, terlihat cukup berusia dengan wajah yang berkarisma. Mengenakan kimono gelap, dia membawa sebuah kamera yang Mio yakini merupakan kamera yang sama dengan yang dia pegang sekarang.
Pria itu berdiri mematung, memandang sebuah altar batu besar dengan beberapa tali penuh mantera diikat di sekitarnya. Mio menyadari kalau altar itu adalah altar yang dilihatnya saat dia pertama kali masuk ke desa demi mencari Mayu.
“Jadi ini yang disebut ‘Shaeiki’?” kata pria itu tiba-tiba. “Kamera yang bisa menangkap wujud yang tak mampu dilihat oleh mata biasa.”
Pria itu masih menatap kamera yang dia pegang, cukup lama sebelum memutuskan untuk menggunakannya. Pengelihatan pun berubah seolah-olah Mio sendirilah yang menggunakan kamera itu sekarang, sedang mengintip melalui lubang kamera.
Kamera itu diarahkan ke altar. Sejenak, tak ada apa pun yang terjadi hingga pria itu memutuskan untuk menekan tombol kamera. Lampu flash berkedip terang dan entah muncul dari mana, puluhan tangan manusia, tampak samar dan nyata di waktu yang bersamaan, berusaha mencakar Mio, atau lebih tepatnya pria yang menggunakan kamera itu. Suara lolongan yang mengerikan terdengar menggema dan pria itu terjatuh, kamera yang dipegangnya terlempar jauh.
“Apa itu tadi…?” kata pria itu kaget. “Kamera ini… jadi apa yang dikatakannya benar… ini bukanlah benda yang boleh dimiliki manusia…” katanya lagi sebelum suaranya memudar, semuanya kembali menjadi putih dan Mio bisa mendengar suara Mayu yang memanggilnya sekarang. Badannya mulai bisa bergerak kembali.
“Mio!” panggil Mayu seraya menggoyang tubuh adiknya itu dengan kasar, membuat Mio terkejut dan menjatuhkan kameranya.
“M-mayu… aku baru saja melihat-“
“Aku tahu…” potong Mayu cepat sembari memeluknya. Mio masih bengong beberapa detik lamanya sebelum dia sadar dan mulai membongkar sekitarnya. Dugaan Mio benar saat dia mendapatkan sebuah tas berisi sebuah buku kecil dan lima benda aneh berbentuk persegi kecil berwarna biru, dua di antaranya berwarna hijau. Mio melihatnya lebih dekat. Benda kecil tersebut terbuat dari plastik tebal dan keras. Yang berwarna biru bertuliskan “Type-14” dan yang hijau walau berukuran sama namun terasa lebih tipis, bertuliskan “Type-61”.
“Apa kakak pernah melihat benda seperti ini?” tanya Mio seraya menunjukkan semua benda itu pada Mayu yang segera menggeleng lemah.
“Coba saja lihat apa yang bukunya katakan tentang kamera ini?” usul Mayu yang segera dituruti oleh Mio.
Mio membuka buku yang lebih mirip memo tersebut sebelum membacanya.
Shaeiki / Kamera Obscura
Kamera ini dibuat oleh Dr. Kunihiko Asou dengan tujuan untuk menangkap wujud mistis yang normalnya tak mampu dilihat dengan mata telanjang.
Kamera ini bisa menangkap kenangan masa lalu seseorang di tempat-tempat tertentu. Kamera ini juga mampu menangkap sosok arwah yang seharusnya tak bisa dilihat oleh mata manusia.
Mengambil gambar makhluk halus dengan benda ini memiliki efek ‘mengusir’ namun di waktu yang bersamaan, akan menghubungkan pengguna dengan makhluk halus tersebut. Karena itulah, penggunaan yang tidak hati-hati dan terus menerus dalam jangka panjang malah akan membahayakan si pengguna.
Aku penasaran, bolehkah aku mengambil foto di jantung desa ini? Tempat di mana ritual terlarang itu dilakukan?
Andai saja Dr. Asou ada di sini, aku yakin, dia pasti sangat antusias mengenai rencanaku ini.
Seijiro Makabe.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Mayu setelah Mio selesai membacanya.
“Entahlah,” jawab Mio singkat. Dia mengintip lubang kamera itu sekali lagi walau kali ini tidak ada pengelihatan seperti tadi. Penasaran dengan isinya, Mio membuka bagian belakang kamera yang terdiri dari dua sekat. Sekat di sebelah kiri terisi oleh benda plastik seperti yang Mio temukan sebelumnya di dalam tas sementara sekat di sebelah kanan kosong melompong. Sekat yang kosong itu memiliki beberapa ruas kecil, membuatnya bisa diisi oleh benda yang mungkin tebal tipisnya berbeda asalkan ukurannya masih sama.
Mio mengeluarkan benda plastik di sekat kiri, Benda itu ternyata sedikit berbeda jika dibandingkan dengan yang Mio lihat sebelumnya, lebih tebal, berwarna cokelat kekuningan dengan tulisan “Type-07” di permukaannya.
“Mungkin saja itu semacam ‘film’ yang harus dipasang agar kameranya bisa dipakai?” celetuk Mayu tiba-tiba. “Walaupun aku belum pernah melihat film yang seperti itu,” lanjutnya lagi.
Mio berpikir sebentar, menyadari kata-kata Mayu mungkin ada benarnya, dia memasang benda yang kakaknya sebut sebagai film itu ke sekatnya kembali. Untuk sekat kanan yang kosong, Mio mencoba memasukkannya dengan film biru bertuliskan Type-14 dan ternyata berhasil. Mio memasang kembali penutup sekat dan mencoba kamera itu, menjepret ke sembarang tempat. Kameranya terbukti masih bisa digunakan.
Mio tersenyum pada kakaknya, bermaksud ingin mengatakan sesuatu sebelum terhenti. Mereka mendengar suara pintu belakang yang digeser, lalu suara orang yang berjalan, suaranya menyeramkan seolah-olah orang tersebut menyeret kakinya dengan susah payah.
Mio dan Mayu pun berdiri dan saling pandang. Ketakutan mulai menjalar di antara mereka karena suara tersebut terdengar semakin dekat. Detak jantung mereka berpacu, napas mereka memburu. Suara itu semakin jelas terdengar. Mio yakin, pemisah antara suara itu dengan mereka hanya dinding dan pintu di depan mereka saja sekarang. Saling menggenggam erat tangan masing-masing, Mio dan Mayu tidak berharap banyak selain agar suara itu menghilang. Masalahnya, pintu di depan mereka kini mulai bergeser.
End of Hour 3.
Shall continue on the next one; Mystery of Miyako Sudo
_________________________________________________________________________
Added Character Explanation part 1 :
Mayu Amakura (15 tahun, di cover dia duduk disebelah kanan)
Mayu adalah kakak kembarnya Mio. Pasif, pemalu, dan perhatian adalah sifatnya yang dominan. Dia memiliki indera keenam yang sangat spesial dan kuat. Karena kecelakaan yang dialaminya, Mayu tidak bisa berlari. Sebaliknya, dia selalu berjalan pincang.
Saat Mayu dan Mio masih kecil, mereka bermain kejar-kejaran di hutan. Mayu yang berusaha mengejar adiknya itu pun terpeleset dan jatuh. Mengakibatkan pincang permanen pada kaki kanannya.
Hal yang paling ditakuti Mayu adalah kalau dia ditinggalkan sendiri oleh Mio. Saat dia bersama Mio mengunjungi tempat bermain masa kecil mereka. Mayu melihat seekor kupu-kupu merah yang indah dan mengejarnya.
Mio Amakura (15 tahun, di cover dia duduk disebelah kiri)
Mio adalah adik kembarnya Mayu. Berani, cerdik, dan sedikit nakal adalah sifatnya yang dominan. Dia juga memiliki indera keenam, walaupun tidak sekuat yang dimiliki kakaknya. Saat masih kecil, Mio bermain kejar-kejaran dengan Mayu di hutan, mengejek kalau dia akan meninggalkan kakaknya sendirian kalau larinya lamban.
Mayu yang ketakutan pun akhirnya berusaha mengejar, namun malah terpeleset dan jatuh ke jurang yang cukup terjal, menyebabkan pincang permanen pada kaki kanannya.
Setelah insiden tersebut, Mio merasa sangat bersalah sehingga dia berjanji pada Mayu bahwa apapun yang terjadi, dia tak akan meninggalkan kakaknya lagi. Sejak itu, Mio selalu berusaha mengawasi dan melindungi Mayu.
Saat Mayu mengejar kupu-kupu merah di hutan, Mio yang khawatir pun segera mengejarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *