Crimson Butterfly : The Fatal Frame -The Lost Village-

Hai… Kami tau kalau kalian ingin mengunduh dan menonton kelanjutan dari Proyek kami, tapi dikarenakan staff yang berhubungan project tersebut pada sibuk, maka project tersebut mengalami pending .. 🙁

Nah sambil menunggu project yang kalian tunggu rilis kembali, mari membaca kisah Fatal Frame 2 : Crimson Butterfly dalam gaya Novel 😀 beberapa dari kalian mungkin sudah ada yang memainkan game ini yah ..

sebenernya bukan aku yg nulis sih, tpi aku udah dapat izin dari Author asli ny 😀


_________________________________________________________________________

Crimson Butterflies; The Fatal Frame


All characters belong to Tecmo.inc as this is only one of fan fiction from Playstation 2, X-box, and Nintendo Wii Game. With this disclaimer, author owe nothing with Tecmo-Koei.inc

Mengisahkan tentang event yang terjadi pada game Fatal Frame 2: Crimson Butterfly. Ditulis kembali dengan gaya novel dan alur cerita yang cukup detail sehingga dapat dinikmati bahkan tanpa harus bermain gamenya. Tentu saja jika reader pernah memainkan gamenya akan memudahkan untuk mengikuti kisah ini. Well… enjoy the story.

Genre : Adventure, Horror, Tragedy, Fantasy.

______________________________________________________________________________

Hour 2 : The Lost Village


“Dear sister… are you leaving me again?”
~Sae’s quote to Mio
“Aku seperti mendengar nyanyian… tapi tak ada seorang pun di sini selain kita…”kata Mayu pelan sembari memandang ke bawah bukit. Perasaan takut yang tidak biasa membuat Mayu segera memegang tangan sang adik. Mio membalas dengan menggenggam erat tangan Mayu dan tersenyum padanya.
“Jangan khawatir, kita pasti akan baik-baik saja,” kata Mio berusaha menghibur.
“Janji…?”
Mio tidak menjawab namun hanya mengangguk dengan mantap, dia tersenyum dengan ekspresi yang meyakinkan.
“Sekarang bagaimana?” tanya Mayu yang kembali memandang ke sekeliling tempat mereka berdiri.
“Kita pergi dari sini,” jawab Mio singkat. Mio memimpin kakaknya untuk kembali menuju jalan yang mereka lalui sebelumnya. Mereka kembali melewati batu nisan besar, menuruni tangga batu, dan melewati gerbang kayu yang sudah rusak. Entah hanya perasaan atau bukan, tapi Mio merasa ada yang sedikit berbeda jika dibanding saat mereka datang pertama kali. Gerbang kayu terlihat lebih hancur, obor kayu memang masih menyala namun apinya terlihat lebih besar sekarang dan jalan setapak yang mereka lalui kini terasa lebih sempit. Mio dan Mayu masih terus berjalan sebelum mereka sampai di ujung yang berakhir di tempat yang berbeda. Sebuah jalan buntu.
“Bagaimana mungkin?” ujar Mio tak percaya. Merasa bahwa Mio seperti mencemaskan sesuatu, Mayu segera bertanya.
“Apa? A-ada apa?”
“Jalan setapaknya hilang…” kata Mio.
“Ha? Maksudnya?” tanya Mayu.
“Jalan setapaknya hilang… tadi kita datang dari sini dan jalannya tidak buntu begini,” kata Mio lagi. Dia masih berusaha melihat ke sekelilingnya, berharap mereka hanya salah jalan. Sayangnya, dugaan Mio jauh dari benar.
“Lalu bagaimana sekarang?”
“Kita terus saja, jalan ini tidak benar-benar buntu kan? Rerumputannya saja yang lebih lebat,” kata Mio sebelum mencoba memaksakan diri untuk menembus jalan buntu tersebut yang terbukti tidak efektif. Rumput yang tumbuh begitu tinggi, duri-duri yang begitu banyak ditambah ilalang yang tajam menyayat kaki Mio, dalam sekejap membuat kakinya kesakitan. Stocking yang dipakainya tidak berguna sama sekali. Mio segera kembali ke tempat Mayu dengan ekspresi kesakitan.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Mayu khawatir, mengepalkan tangannya sendiri di dadanya dengan cemas.
Mio tidak menjawab, sebaliknya, dia masih mencari kalau-kalau ada bagian dari rerumputan itu yang lebih longgar dan bisa dilalui. Pada akhirnya Mio harus kecewa juga. Kalau Mio sendirian, jalan buntu ini bisa dilaluinya dengan paksa walau mungkin dia harus merelakan kakinya untuk disayat oleh ilalang dan duri. Tapi kalau Mayu sudah pasti tak akan tahan. Pada akhirnya, Mio hanya menghela napas dengan sedih.
“Mio?” panggil Mayu khawatir.
“Aku tidak apa-apa,” balas Mio cepat sebelum berbalik menoleh padanya.
“Jalan ini tak bisa ditembus, kita harus mencari jalan lain.” kata Mio sembari tersenyum.
Mayu masih menatapnya selama beberapa detik sebelum melempar pandangannya ke bawah.
“Tapi kau bisa melewatinya…” jawab Mayu pelan, merasa malu atas keterbatasannya yang selalu membebani Mio selama ini.
“Ayolah… Aku tidak berpikir—”
“Aku tidak mau menjadi beban…” potong Mayu dengan suara sekecil bisikan.
Mayu menyentil pelan kening kakaknya.
“Aku tidak pernah berpikir seperti itu, kita hanya perlu mencari jalan lain. Lagipula, paman Kei pasti segera menyadari kalau ada yang tidak beres dengan kita, dia akan datang mencari,” kata Mio yakin.
Sebenarnya, hari ini adalah hari di mana Mio dan Mayu pergi menjenguk ibu mereka yang dirawat inap di rumah sakit. Karena ayah mereka; Misao Amakura menghilang beberapa tahun yang lalu, dan lagi dengan sakitnya ibu mereka, Mio dan Mayu terpaksa tinggal bersama adik ibunya yang bernama Kei Amakura. Saat pulang dari rumah sakit, Mayulah yang ngotot mau melihat tempat bermain mereka saat masih kecil di hutan ini untuk terakhir kalinya, mengingat tempat ini akan segera dijadikan bendungan. Karena paman Kei ada urusan pekerjaan, maka Mio dan Mayu ditinggal selama setengah jam dan sekarang mereka sudah menghabiskan waktu di hutan itu lebih lama dari perjanjian. Mio yakin paman Kei mestinya sedang mencari mereka juga sekarang.
Mayu masih terlihat berusaha menguatkan diri, menggigit bibirnya dan tampak berusaha untuk tidak menangis.
“Mio, di sana juga ada jalan setapak,” katanya sembari menunjuk ke arah kiri dari tempat mereka berdiri.
“Ayo kita lihat, mungkin itu jalan pulang yang benar,” jawab Mio bersemangat. Ide untuk menjauhi desa di bawah bukit tampaknya adalah ide yang paling baik untuk saat ini. Toh perasaan mereka mengatakan ada sesuatu yang tidak bersih di desa itu. Mio memimpin jalan diikuti oleh Mayu di belakangnya. Sesekali Mio harus menunggu agar Mayu bisa menyusulnya dikarenakan ketidakmampuan kakaknya itu untuk berlari, walau harus Mio akui kalau dia kalah cepat ketika Mayu berlari lebih kencang darinya saat dia mengejar kupu-kupu merah sebelumnya. Dugaan bahwa Mayu kerasukan sesuatu terus berputar-putar di otak Mio, walau dia terus berusaha menepis pikiran itu. Yang penting, Mayu sudah bersikap seperti biasa sekarang.
Mereka akhirnya sampai di ujung jalan dengan tebing curam membentang cukup luas yang dihubungkan oleh jembatan gantung terbuat dari kayu yang tampak sudah lapuk. Di seberang tebing sangat gelap dengan kabut tebal menyelimuti. Mio memeriksa jembatan di depannya. Memang sudah tua tapi sepertinya masih bisa dilalui kalau mau. Yang menjadi masalah justru adalah minimnya cahaya di sana. Salah injak dan mereka bisa saja terjatuh ke dalam jurang.
“Kupikir ini bukan jalan yang bagus,” kata Mayu tiba-tiba.
“Eh? Memangnya kenapa?” Tanya Mio bingung sembari menoleh pada Mayu yang segera menunjuk ke seberang tebing. Mio melirik tempat yang ditunjuknya dan segera mengerti apa yang kakaknya maksudkan.
“Aduh… kenapa harus kuburan?” keluh Mio setelah sadar ada banyak sekali kuburan dengan batu nisan sederhana di sana. Mio tidak bisa menduga seluas apa pemakaman itu karena tempatnya yang gelap. Terlepas dari luas atau tidak, tetap saja pemakaman itu tampak mengerikan.
“Kupikir bukan ide yang bagus untuk ke sana…” kata Mayu mengulang.
“Kau benar,” jawab Mio singkat sebelum melanjutkan. “Apa menurutmu, kita harus mengecek jalan menuju desa?”
Mayu tidak menjawab dan Mio memakluminya. Desa itu sama mengerikannya dengan pemakaman di depan mereka. Namun ada kah jalan lain? Mereka sudah tak bisa kemana-mana lagi. Mio tidak yakin kalau menunggu paman Kei di hutan adalah solusi yang baik. Tempat ini adalah hutan yang berbeda dari tempat mereka bersantai beberapa jam yang lalu. Diserang ular berbisa atau binatang berbahaya lainnya adalah hal terakhir yang diinginkan oleh Mio.
Mengerti kalau mereka tidak punya pilihan lain, Mio memimpin jalan dengan Mayu mengikuti dari belakang. Mereka berjalan dengan pelan tanpa bicara sama sekali. Mereka tidak bisa berjalan cepat karena Mayu yang harus hati-hati menyeret kaki kanannya. Mayu hanya diam saja, dia tahu kalau Mio pastinya sangat kesal di dalam hatinya. Semenjak kecelakaan yang menimpanya tujuh tahun yang lalu, Mayu semakin tergantung pada Mio. Adakalanya, Mayu merasa kalau Mio mungkin saja membencinya, walaupun sampai saat ini Mio tidak pernah memarahinya barang satu kalipun. Tak jarang Mayu selalu merasa kalau ada baiknya dia menghilang saja dari kehidupan saudaranya itu.
“Jangan pikir yang macam-macam ya,” kata Mio tiba-tiba tanpa menoleh ke arah Mayu. Dia tahu apa yang sedang Mayu pikirkan sedari tadi. Mio sangat mengerti akan Mayu sama seperti dia mengerti dirinya sendiri.
“Maaf,” kata Mayu lirih.
Mio hanya menghela napas. “Ayolah kak… kau tak perlu minta maaf, kau tidak melakukan kesalahan apapun,” jawab Mio. Dia masih tampak ingin mengatakan sesuatu sebelum terhenti. Mio sadar dia baru saja menginjak sesuatu yang tampak seperti tas kecil di jalan yang mereka lalui.
“Mio! Kau menginjak sesuatu…” kata Mayu.
“Sepertinya sebuah tas,” jawab Mio singkat sembari memungutnya dan memeriksa isinya.
“Kau menemukan sesuatu?” tanya Mayu penasaran.
“Sebentar,” jawab Mio. Dia membongkar tas kecil itu dan menemukan sepasang sarung tangan, karet kecil, empat baterai senter, dan dua kliping potongan koran.
“Jadi?” tanya Mayu penasaran saat melihat Mio berusaha membaca potongan koran tersebut hanya dengan bermodalkan sinar obor di dekatnya.
Sadar kalau Mayu punya hak untuk tahu, Mio membacakan koran itu untuknya juga.
Menghilangnya Seorang Surveyor Geologi
Dengan semakin dekatnya jadwal program pembentukan bendungan Minakami, Masumi Makimura (26), seorang surveyor geologi yang diutus ke daerah bersangkutan dinyatakan telah menghilang.
Tuan Makimura mengunjungi area tersebut untuk melakukan investigasi terakhir sebelum pembentukan bendungan dilakukan dan area hutan ditenggelamkan. Namun sejak kepergiannya, tuan Makimura tidak pernah kembali lagi hingga hari ini. Hingga berita ini diumumkan, tuan Makimura telah menghilang selama lima hari.
Merasa penasaran, Mio membaca kliping koran yang satunya lagi.
Pencarian Surveyor Dihentikan
Pencarian tentang keberadaan Masumi Makimura (26), seorang surveyor yang menghilang sejak tanggal empat bulan ini telah dihentikan kemarin.
Tuan Makimura adalah seorang surveyor yang membantu program pembentukan bendungan di area Minakami di prefektur Kanagawa. Terhitung sejak pencarian dihentikan, tuan Makimura telah menghilang selama sepuluh hari.
“Kasihan sekali, padahal bisa saja dia masih hidup dan terperangkap di sini,” kata Mayu iba.
“Oh… lihat,” kata Mio setelah menyadari ada sebuah foto yang terselip di antara dua potongan koran tadi.
Foto itu memperlihatkan seorang pria dan wanita yang berdiri bersama sambil tersenyum, Mio menduga kalau mereka adalah sepasang kekasih.
“Jangan-jangan pria ini yang bernama Masumi itu?” tandas Mayu. Mio sendiri hanya menaikkan bahunya tanda tak tahu.
Mio mengaitkan tas kecil itu ke badannya yang praktis membuat Mayu bingung.
“Kau mau membawanya?” tanya Mayu ragu-ragu sementara Mio mengangguk yakin.
“Kalau kita bertemu pemiliknya, akan kita kembalikan tas ini, hanya untuk jaga-jaga kalau desa itu tidak ada penerangan. Lagipula di tas ini ada baterai, kita hanya perlu mendapatkan senter sekarang,” terang Mio sebelum memegang tangan Mayu lagi, berniat mengajaknya untuk berjalan kembali.
Mereka mulai bisa melihat bangunan desa dengan jelas sekarang. Tidak adanya tiang listrik menjelaskan kalau belum ada penerangan yang memadai di desa ini. Di dalam hatinya, Mio bersyukur karena dia telah memutuskan untuk membawa tas yang ditemukannya tadi, masalahnya sekarang adalah bagaimana mencari senter.
Mio memperhatikan desa itu dengan teliti, bangunan-bangunannya tampak sangat kuno dan beberapa diantaranya sudah hancur, bahkan ada yang sudah luluh lantak menyatu dengan tanah. Desa itu tampak sudah lama tak berpenghuni, namun anehnya, beberapa obor kayu masih menyala di beberapa tempat seperti di sudut jalan dan di depan rumah- rumah.
“Lihat…” tandas Mayu tiba-tiba sembari menunjuk ke arah jalan cukup jauh di depan mereka.
Mio menyipitkan matanya, berusaha menangkap sesuatu yang dilihat oleh Mayu. Dan benar saja, Mio melihat seorang wanita, berambut panjang dengan pakaian putih sedang berjalan pelan mendekati salah satu rumah yang cukup besar yang berdiri kokoh di depannya.
“Ada orang! Mungkin kita bisa meminta bantuannya,” seru Mio antusias. Segera saja dia dan Mayu berjalan terburu-buru berusaha menyusul wanita itu.
Mereka akhirnya sampai di sebuah rumah yang cukup besar. Mio sangat yakin kalau wanita yang mereka lihat tadi juga mendekati rumah itu walau anehnya, mereka tidak berhasil menemukannya. Melihat ada cahaya terang muncul begitu saja dari celah jendela rumah tersebut, Mio menduga jangan-jangan wanita tadi ada di dalam rumah. Mio pun berjalan mendekati pintu masuk, menyadari sebuah papan nama kecil tertempel di dinding, papan nama bertuliskan “Kediaman Osaka”. Sepertinya, rumah tersebut adalah milik keluarga Osaka yang pernah tinggal di desa ini. Melihat rumahnya yang cukup besar, Mio yakin keluarga Osaka pastilah keluarga yang cukup berpengaruh di desa.
“Aku tidak yakin ada orang di sini…” kata Mayu tiba-tiba.
Mio tidak menjawab, dia hanya ingin berpikir positif sekarang, seharusnya Mayu mengerti kalau mereka sedang tersesat? Selama ada kemungkinan untuk mendapatkan bantuan maka mereka harus mencobanya.
Mendadak saja tangan Mayu memegang bahu Mio dengan lembut, Mio menerimanya dan menggenggam tangan tersebut. Mio baru saja ingin berbalik sebelum dia menyadari kalau Mayu baru saja melewatinya, mencoba untuk memeriksa pintu rumah keluarga Osaka. Jantung Mio berdetak kencang, kalau Mayu ada di depannya, tangan siapa yang sedang dia pegang sekarang?
“Apa kau akan meninggalkanku lagi…? Yae…?”
Sebuah suara yang parau, penuh kesedihan namun di saat yang sama juga dirasakan Mio sebagai suara yang penuh dengan kebencian mendengung begitu saja di telinganya. Ketakutan, Mio segera melepas pegangan tangan misterius tadi dan segera berbalik. Anehnya, dia tidak melihat apapun di belakangnya selain debu yang beterbangan di bawah sinar obor yang terpasang di sudut jalan tak jauh darinya.
Mayu yang menyadari kalau Mio bertingkah aneh segera memanggilnya.
“Mio? Kau kenapa?” tanya Mayu.
“Huh?” jawab Mio bingung. Dia mengelus tangannya, berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau tadi mungkin hanya halusinasinya saja. “A-aku… tidak apa-apa,” kata Mio lagi setelah melihat Mayu yang semakin mencemaskannya.
Memasuki rumah Osaka menjadi sebuah ide paling baik yang bisa dipikirkan Mio sekarang. Segera saja dia mendekati Mayu dan melihat pintu besar di depan rumah tersebut. Mio mencoba mendorongnya yang ternyata berhasil. Sepertinya pintu tersebut tidak pernah di kunci dalam waktu yang lama.
“Kau yakin mau masuk?” tanya Mayu ragu-ragu yang dibalas Mio dengan sekali anggukan saja. Setelah yakin dengan keputusan mereka, keduanya pun mendorong pintu lebih lebar dan memasuki rumah tua itu.
Mereka memasuki semacam ruang tunggu kecil, ternyata yang mereka buka tadi hanyalah pintu depan karena di depan Mio dan Mayu sekarang berdiri satu pintu lagi, bedanya pintu yang mereka lihat sekarang adalah pintu geser. Di samping kiri mereka ada sekat kayu yang ukurannya dua kali jendela, penuh debu dan kotor. Melalui sekat-sekat yang ada, Mio bisa melihat ruangan yang remang-remang dengan kimono yang digantung, lemari usang, dan sebuah lentera kecil dengan motif kupu-kupu merah.
Mau melihat lebih jelas, Mio berusaha mengintip lebih dekat hanya untuk bertatapan dengan wajah samar seorang wanita yang entah muncul dari mana. Mio terkejut dan terdorong ke belakang karena kaget, beruntung Mayu menahannya dengan cepat.
“Kau kenapa Mio? Dari tadi sikapmu aneh?” tanya Mayu semakin khawatir.
“Tadi… aku…” kata Mio gelagapan setelah menyadari sosok wajah yang dilihatnya telah hilang. Mio melihat Mayu yang ekspresinya sama takutnya dengan dirinya. Mio berusaha menenangkan diri, di saat seperti ini dia tak boleh ketakutan, dia pernah bersumpah akan selalu melindungi Mayu dan bersikap takut seperti ini bukankah hanya akan memperparah keadaan? Apalagi Mayu hanya bisa mengandalkannya saja. Mio berusaha untuk kuat, mencoba untuk berdiri.
“Tidak apa-apa, sepertinya aku kecapean…” kata Mio akhirnya berusaha berbohong. Mereka saling memandang. Mio tahu kalau Mayu sadar bahwa dia telah berbohong. Walaupun begitu Mayu hanya diam saja. Keduanya saling berpegangan tangan, saling menggenggam dengan begitu erat seolah-olah ingin menguatkan diri satu sama lain, seperti ingin mengatakan “aku akan selalu di sampingmu” tanpa perlu mengucapkannya.
Mio dan Mayu berbalik dan melihat pintu geser yang berada di depan mereka. Mereka sadar kalau rumah ini sama tidak amannya dengan di luar, tapi hanya berdiri diam pun tidak ada gunanya. Setelah merasa siap, Mio berjalan maju dan dengan perlahan membuka pintu geser tersebut.
End of Hour 2.
Shall continue on the next one; The Camera Obscura

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *