KRANIAL Bocah Gledek Dan Raja Dari Masa Lalu Chapter 1

Oleh      : Yudha D. Strada

 Diantara hujan yang turun membasahi bumi, Gia berlari. Sore itu, langit sangat gelap. Petir saling menyambar bersahut sahutan di langit. Genangan air dimana mana namun dia tetap berlari. Bajunya basah dan terlihat kotor dibeberapa bagian bekas terjatuh dari tanah  dan seakan berat oleh air hujan yang menimpa badannya daritadi. Dia terus berlari menginjak genangan air. Cipratan airnya tak dia hiraukan. Wajahnya tertunduk. Bibirnya digigit. Seolah menahan rasa penyesalan yang begitu dalam.  
“…Kak Maya, tunggu aku…” Gumamnya diantara deras hujan.
Dia tiba disebuah hutan. Pepohonan besar tertiup angin seolah menyapa kegalauan dirinya, dengan langit yang gelap gulita dan gemuruh petir yang terdengar sesekali. Nafasnya tersengal sengal.
Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya seolah tak henti mecari sosok bernama Maya. Tiba tiba dari balik sela diantara pepohonan muncullah sesosok wanita berambut hitam lurus panjang, bergaun One Pieceputih dengan kalung bandul lonceng kecil kuning keemasan keluar. Badannya penuh luka bared dan beberapa terlihat seperti di sayat benda tajam di bagian lengan kanan, tangan kiri, perut sebelah kanan darah menyebar diantara gaun yang dipakainya.
                “Kak Maya…!!!”
                “………..Gia” jawab Maya pelan.
Gia berlari menghampiri Maya yang jalan tergopoh gopoh itu, dengan sigap dia menahan beban badannya.
                “Kakak udah luka parah, jangan memaksa buat jalan lagi, kakak kuat kakak pasti kuat, biar aku gendong kakak, kita pergi dari sini dan cari pengobatan” ucap Gia sambil mencoba menggendongkan Maya di Punggungnya.
                “…Gak usah, kakak masih bisa jalan kok”
                “Tapi kak!!”
                “Gak usah yah…” Jawab Maya menegaskan, senyum kecil lembut muncul diwajahnya yang cantik.
                “Kamu anak nakal… kakak udah bilang supaya kamu tunggu kakak di rumah….”
                Kepalan tangan Maya yang lembut menyentuh dahi Gia. Gia terdiam.
                “Jangan Nakal yah kalau kakak gak ada….”
                Mata Gia terbelalak, seolah mendengar petir di siang bolong.
Suara desingan peluru terdengar membelah suara hujan yang turun. Tiba tiba saja sekelompok pria berbadan tegap berpakaian jas hitam berkacamata hitam muncul dari tempat yang sama dengan Maya muncul. Ada lima sampai tujuh orang dalam kelompok pria bebadan tegap itu. Mereka tidak banyak bicara. Salah satunya senyum menyeringai.
                “Apa lagi ini…????” gumam Gia “Siaaalllll….”
                Gia menoleh ke kanan dan ke kiri. Ketujuh Pria itu kini mengurungnya.
                “Ternyata… sampai sini saja yah… maaf yah Gia…” bisik Maya pelan kepada Gia.
                Gia terkejut. Berbarengan dengan itu dia menoleh ke arah kiri dan melihat sebuah kepalan tangan meluncur begitu cepat tepat di wajahnya, Gia tersungkur ke tanah. Dalam sekejap Pria yang mendaratkan tinju itu kini membenamkan kakinya tepat di ulu hati Gia, dia terpental sejauh 5 meter akibat sepakan keras itu. Dalam sayup sayup diantara hujan deras, dia melihat Maya yang membela diri karena ditangkap pria pria itu. Dalam keadaan normal pasti dia akan bergerak untuk meyelamatkan gadis itu. Karena dia memang peduli pada hal hal yang bersifat membatu kesulitan orang lain sesuai dengan kemampuannya. Namun kini lain, dia harus melihat, dalam samar samar yang mulai hilang, gadis yang selalu bersamanya disakiti oleh pria pria tak dikenal.  Keinginan dan kekuatannya berjalan terbalik. Dia akhirnya tergeletak tak berdaya dan menutup matanya.
                Entah berapa lama dia tak sadarkan diri, namun perlahan jari jemari di tangannya mulai bergerak. Merasakan tetesan hujan. Kepalanya terasa berat. Ulu hatinya sakit. Dia pegangi ulu hatinya itu sambil meringis dan berusaha bangun, bangkit dari ketidaksadarannya.
                “Kak… Maya…”
                Terlihat sosok Maya yang tergeletak tak berdaya jauh di hadapannya.
                “Are you was wake up Boy???” sebuah suara terdengar dari belakangnya, memecah konsentrasinya yang mulai focus. Pria berbadan besar berambut pirang tersebut langsung menghantamnya dengan sebuah pukulan dan melesakkan tinjunya di pipi kiri Gia. 
Lambat laun, kesadarannya mulai hilang lagi, jauh, jauh dan jauh dia mulai tak sadar.
Sebuah titik gelap menghampiri penglihatannya, gelap dan sangat gelap menyelimuti indera penglihatannya sampai akhirnya hitam gelap seutuhnya.
                “Kak Maya….!!!!”
*****
                “Hhaaaaahhhh….!!!!” Gia terbangun dari tidurnya.
                “Mimpi buruk itu lagi, apa sebenarnya yang terjadi, apa itu mimpi buruk??? Atau pernahterjadi padaku sebelumnya???” gumamnya kecil, pertanyaan pertanyaan itu mulai menghantui pikirannya.
                Kkkkkrrrriiiiiiiinnnngggggggggggg!!!!!!!!! Jam wekernya berbunyi. Waktu tepat menunjukkan pukul 6 pagi.
Wajahnya kaget.
                “Eeeeeehhhhhh…..siapa yang menyetel alarmnya jam segini!! Udah kesiangan  ini mah atuh…!!!! Teriaknya menggaruk rambut.
                Dalam secepat kilat dia mauk ke kamar mandi. Tapi keluar lagi, handuknya tidak terbawa. Dia masuk lagi. Gia, seorang pemuda berusia 20 tahun yang bekerja di suatu Kawasan Industri yang benama Surya Dipta di Kota K. Dia bekerja sebagai karyawan kontrak dengan upah minimum. Pikirnya, mencari pekerjaan di negeri ini sudah sulit, jadi dia pun berusaha untuk menekuni pekerjaannya itu sebagai buruh di perusahaan yang bernama Technolyze. Setelah pulang bekerja pun dia tetap menjalani pekerjaan lain sebagai seorang penulis dan menggambar sketsa sketsa untuk dijadikan cerita bergambar.
                Tapi, ada satu hal yang tak diingatnya, yaitu siapakah Maya??
                Apakah maksud mimpinya itu???
*****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *